Masa Pandemi, Usaha Warung Makan Terbantu Penjualan ‘Online’

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Dengan cekatan, Dito, mengambil ayam, lele dan ampela ati. Sebelum digoreng, semuanya dicelupkan dalam adonan bumbu. Tidak seberapa lama, seluruh makanan tersebut pun matang.

Tambahan berupa kremes, sambal dan potongan kol serta timun pun dimasukkan, jika ada pembelian bungkus. Sementara, jika makan di tempat, seluruh pesanan segera disajikan di atas piring.

Meski pandemi Covid-19, omzet warung makan ayam kremes tetap bertahan dengan memanfaatkan penjualan lewat online, Selasa (3/11/2020). Foto: Arixc Ardana

Kesibukan tersebut seakan tidak pernah berhenti. Puluhan pembeli yang datang, segera dilayani. Jika kondisi tengah ramai, seluruh pesanan baru bisa dilayani sekitar 15 – 20 menit kemudian.

“Masih tetap ramai, sehari bisa puluhan potong ayam, lele dan bebek terjual. Belum lagi, kepala ayam, kepala bebek, atau ampela ati. Masih tetap ramai meski ada pandemi Covid-19,” papar Dito, saat ditemui di sela berjualan di kawasan Tembalang Semarang, Selasa (3/11/2020).

Meski demikian, diakuinya awal-awal pandemi Covid-19 sempat membuat pembeli enggan makan di luar rumah, sehingga berimbas pada omzet penjualannya. Namun kini kondisi sudah berangsur normal kembali.

“Sempat sepi juga, karena banyak mahasiswa yang pulang kampung, akibat kampus memberlakukan aturan belajar dari rumah. Anak kos rata-rata pulang semua, padahal mereka ini pembeli utama. Para mahasiswa masih ada, namun hanya sebagian kecil yang masih bertahan di kos,” terangnya.

Sebagai informasi, di kawasan Tembalang Semarang, ada empat perguruan tinggi yakni Undip, Politeknik Negeri Semarang (Polines), Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang, hingga Universitas Pandanaran Semarang, dengan jumlah mahasiswa mencapai puluhan ribu, yang sebagian besar berstatus mahasiswa kos.

Namun berkat ketekunan, serta dibantu penjualan online, warung tersebut bisa bertahan meski di tengah pandemi.

“Penjualan online juga banyak membantu. Buat konsumen yang tidak sempat datang sendiri, atau menjaga jarak, biasanya beli lewat online,” tambahnya.

Meski demikian, jumlah pembeli yang datang langsung ke warung juga cukup banyak. Maka tidak mengherankan, jika omzet penjualan pun tetap tinggi.

“Kalau angka pastinya, saya tidak bisa menyebutkan. Rahasia perusahaan,” paparnya sembari tertawa.

Namun sebagai perbandingan, dalam sehari berjualan dari pukul 16.00 WIB – 23.00 WIB, warung tersebut bisa menjual antara 30-50 potong ayam dan bebek, ditambah belasan lele hingga ampela ati.

Sementara, untuk seporsi nasi ayam goreng kremes dihargai Rp 12 ribu, nasi bebek kremes Rp 17 ribu, nasi lele kremes Rp 11 ribu. Sementara jika hanya ayam kremes tanpa nasi Rp 10 ribu, bebek Rp 15 ribu, lele Rp 9 ribu, ampela ati Rp 5 ribu, kepala ayam Rp 5 ribu.

Dirinya bersyukur, di masa pandemi Covid-19, masih bisa tetap bertahan, dengan omzet yang lebih dari cukup. Terlebih berkurangnya konsumen, para mahasiswa, akibat libur panjang.

Sementara, salah satu pembeli, Wina, mengaku lebih memilih membeli makanan siap makan, seperti ayam kremes atau bebek kremes, karena murah dan praktis.

“Lebih mudah beli, karena harganya juga terjangkau dan enak. Kalau saya bikin sendiri, belum tentu enak dan pastinya lebih mahal, karena harus beli ayam minimal sekilo. Belum lagi memasaknya,” jelas warga Tembalang tersebut.

Hal senada juga disampaikan Siti. Alasan kepraktisan, menjadikan ibu dua anak ini lebih memilih membeli dibanding masak sendiri.

“Termasuk di awal-awal pandemi, saya menggunakan layanan ojek online, untuk mempermudah pembelian sekaligus menjaga jarak, demi mencegah pandemi Covid-19,” pungkasnya.

Lihat juga...