Memilih Mi atau Nasi Sebagai Sumber Energi

Editor: Mahadeva

Satu porsi mi ayam. 200 gram mie basah nilai energinya setara dengan 100 gram nasi, sehingga bisa dijadikan bahan makan alternatif atau selingan sumber karbohidrat, Sabtu (21/11/2020) - Foto Ranny Supusepa

JAKARTA – Varian komoditas sumber karbohidrat di Indonesia sangat berlimpah. Mulai dari beras yang diolah menjadi nasi atau tepung beras, hingga olahan tepung terigu seperti mi. Mi, sebagai produk olahan tepung di Indonesia masih terbagi menjadi mi basah dan mi kering. Tapi, apakah secara nilai gizi, mengkonsumsi mi itu setara dengan mengkonsumsi nasi?

Ahli Gizi, Sitti Hikmawatty menyebut, karbohidrat dibagi menjadi dua yaitu sederhana dan Kompleks. Hal tersebut berdasarkan perbedaan struktur kimiawi dari makanan tersebut. “Karbohidrat sederhana itu mengandung gula dasar yang mudah dicerna dan diserap tubuh. Sementara yang kompleks, memiliki rantai gula yang panjang, dan membutuhkan waktu lama untuk diproses oleh tubuh,” kata Sitti kepada Cendana News, Sabtu (21/11/2020).

Karbohidrat dibutuhkan tubuh sebagai sumber energi, kebutuhan kalori dan kebutuhan serat. “Jadi kalau bicara tentang karbohidrat, maka bisa dikatakan setara antara 100 gram nasi dengan 200 gram mi basah. Ini setara ya, bukan sama. Kenapa berat berbeda tapi setara energinya? Karena ada kandungan airnya dan air ini tidak ada kaitannya dengan energi,” urainya.

Sitti menyebut, karbohidrat di dalam nasi, lebih kompleks dibandingkan mi. Artinya, bisa dikatakan mengkonsumsi nasi lebih baik dibandingkan mi. “Kompleks ini artinya, bahan karbohidrat tersebut ikatan kimiawinya lebih kompleks, selain itu nasi juga mengandung beberapa unsur vitamin dan mineral, serta serat yang meski tidak memiliki nilai gizi, tapi diperlukan untuk kelancaran proses pembuangan feses. Mengkonsumsi makanan yang beragam (tidak itu-itu saja) akan, mempengaruhi proses pencernaan dan juga mempengaruhi tubuh dalam merespon potensi penyakit seseorang,” paparnya.

Ahli Gizi Sitti Hikmawatty, saat dihubungi Cendana News, Sabtu (21/11/2020) – Foto Ranny Supusepa

Kalau saat sarapan pagi, tidak mengkonsumsi nasi tapi malah mengkonsumsi mi ayam, Sitti menyebut, dari sisi energi, bisa komplemen. “Jadi hitungan energinya bisa adekuat (memenuhi kebutuhan). Dan tidak salah juga, jika digunakan sebagai variasi, menu makanan untuk sarapan. Karena variasi makanan itu akan mampu menghindarkan kita dari kecenderungan penyakit yang mungkin timbul, jika kita hanya memakan satu jenis makanan yang sama,” ucapnya.

Terkait kandungan gula, mi dinyatakan oleh Sitti memiliki kandungan gula yang lebih murni dibandingkan nasi. “Mi itu sudah mengalami proses pengolahan. Sehingga kandungan seratnya menjadi bisa diabaikan, karena banyak terbuang selama proses pengolahan . Sementara nasi, cara pengolahan yang sederhana menyebabkan kandungan seratnya masih ada, terutama nasi yang berasal dari beras merah, mengandung serat yang cukup tinggi, jelasnya.

Dan biasanya, mi olahan sudah mendapatkan tambahan bahan pengawet. Sehingga mampu bertahan dalam jangka waktu tertentu, untuk memenuhi persyaratan distribusi dan pemasaran. “Kalau nasi istilahnya, dimasak hari itu, langsung dimakan. Gak mungkin kita makan nasi yang sudah lima hari gitu. Sementara mi kering itu paling tidak berbulan-bulan bahkan mungkin tahunan lah harus bertahan,” papar Sitti.

Dalam kasus mi yang dicampur dengan sayuran segar, seperti bayam atau wortel, menurutnya, akan menguatkan pemenuhan zat gizi mikro, sehingga sangat dianjurkan makan mi yang kaya karbohidrat, dikombinasikan dengan sayur dan sumber protein agar gizi yang dikonsumsi menjadi lengkap. Untuk bahan makan yang merupakan produk olahan, ada banyak kandungan zat adiktif seperti pengawet, perasa ataupun penyedap makanan. Dengan demikian, kandungan vitamin dan mineral asli, terutama vitamin, cenderung mengalami kerusakan oleh pemrosesan yang dilakukan.

“Vitamin itu rentan. Ada yang tidak bisa kena cahaya. Ada yang tidak bisa kena panas, bisa hilang atau menurun kualitasnya, kalau dicampurkan begitu saja. Belum lagi pengaruh panas tinggi selama proses pengolahan, bisa membuat beberapa vitamin tertentu rusak,” paparnya.

Lihat juga...