Mengenal Ritual Adat Petani Garam di Sikka

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Warga Kampung Garam dan Nangalekong di Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, Kota Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenaggara, sejak zaman dahulu hingga kini selalu memasak garam secara tradisional dengan peralatan sederhana yang diwariskan secara turun temurun.

Saban tahun di penghujung Desember, warga Nagalekong dan Kampung Garam di Kelurahan Kota Uneng, Kota Maumere, bahkan rutin menggelar ritual adat Hogor Hini. Kata Hogor Hini berasal dari bahasa Krowe, yang biasa dipergunakan warga kampung ini.

“Hogor berarti bangkit, bangun, berdiri dan Hini yang artinya garam. Ritual adat ini dilakukan sebagai wujud rasa syukur dengan memberi makan atau memberikan sesajen kepada nenek moyang dan leluhur,” sebut Petrus Blasing, Ketua RT di Kampung Garam, Kelurahan Kota Uneng, Kabupaten Sikka, saat ditemui Cendana News di rumahnya, Minggu (8/11/2020).

Ketua RT Kampung Garam, Kelurahan Kota Uneng, Kabupaten Sikka, NTT, saat ditemui di rumahnya, Minggu (8/11/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Menurut Petrus, pelaksaan ritual Hogor Hini dimaknai untuk menghormati leluhur mereka yang telah mengajari mereka menjadi petani garam.

Ia menyebutkan, ritual Hogor Hini semacam ajang meminta restu leluhur, agar dalam setahun memasak garam bisa mendapat rezeki yang baik dan diberikan kesehatan.

Ditambahkannya, selain itu dilantunkan permohonan agar dalam bermasyarakat juga tidak ada masalah, dan kampung yang mereka tempati tersebut terhindar dari malapetaka.

“Warga meyakini, pekerjaan mereka akan berjalan baik dan meraih sukses berkat peran dan campur tangan leluhur mereka. Pelaksanaan Hogor Hini diyakini bisa membawa damai,” terangnya.

Salah seorang pemasak garam, Anastasia Puken, mengatakan dengan ritual Hogor Hini segala keributan dan saling memusuhi yang terjadi antarkeluarga dan tetangga yang selama ini terjadi, bisa cair dan semua bisa saling memaafkan.

Anastasia menyebutkan, biasanya ritual dimulai sekitar pukul 16.00 WITA, segala perlengkapan berupa daging ayam, nasi putih, tembakau, sirih pinang, telur ayam, nasi kuning, minyak kelapa, kayu dan daun untuk mengoleskan minyak kelapa ditaruh di Lida (nampan dari anyaman daun lontar ), yang dipegang seorang lelaki.

“Sementara seorang lelaki lainnya memegang karung berisi nanas, kelapa muda dan arak (Moke). Setelah ketua adat mengecek segala perlengkapan, ritual dimulai dari pondok memasak garam di samping rumah ketua adat,” terangnya.

Anastasia mengaku, ritual adat ini biasanya dilaksanakan dua hari menjelang hari raya Natal, sehingga sebagai umat beragama Katolik ini menjadi momentum bagi warga untuk saling memaafkan dan bergembira menyambut hari raya Natal.

Lihat juga...