Menggali Masa Keemasan Airlangga di Rumah Peradaban Lamongan

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Kepemimpinan Raja Airlangga yang terbaca dari beberapa prasasti yang ditemukan di daerah Lamongan, menunjukkan tingginya peradaban dan sistem kepemerintahan yang mengayomi warga. Baik dari segi ekonomi maupun sosial kehidupan.

Bahkan, pada masa kerajaan Airlangga inilah, dinyatakan pembangunan bendungan sudah dimulai di Indonesia. Dan semua ini, dapat dipelajari dan dijadikan destinasi wisata melalui rumah peradaban Lamongan.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lamongan, Miftach Alamudin, S.AP menyatakan bahwa nilai-nilai yang ada di masa kepemimpinan Airlangga mendorong Pemda Kabupaten Lamongan untuk membangun rumah peradaban Lamongan agar generasi muda bisa mempelajari apa yang pernah terjadi di masa itu.

“Pengembangan situs arkeologi di Lamongan, yaitu situs Patakan sangat membutuhkan bantuan dari berbagai pihak. Karena sangat butuh untuk disosialisasikan. Bukan hanya ekskavasi,” kata Miftach dalam talkshow online Situs Patakan, Minggu (29/11/2020).

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lamongan Miftach Alamudin, S.AP saat talkshow online Situs Patakan, Minggu (29/11/2020). -Foto Ranny Supusepa

Ia menyatakan bahwa dari hasil penelitian, situs Patakan ini merupakan lokasi pelarian Airlangga.

“Sejak pertama kali ditemukan pada tahun 2010, sudah dilakukan ekskavasi pada tahun 2013, 2018, 2019 dan 2020. Saat 2013 ini sebenarnya hanyalah eksplor awal  berdasarkan temuan pada tahun 2010 yang menyatakan adanya bangunan suci. Dan memang terlihat ada struktur bangunan candi,” paparnya.

Pada tahun 2018, ekskavasi kedua dilakukan. Tapi baru pada tahun 2020 ini, pemda menjadikan Situs Patakan ini menjadi ikon baru wisata minat khusus dan bukan hanya untuk penelitian saja.

“Kami sudah membuat masterplan pengembangan kawasan situs Patakan dengan membuat MOU dengan pihak Perhutani Mojokerto selaku pemilik lahan, dan kerja sama stakeholder terkait BPCB, kecamatan, pemerintah desa, Karang Taruna dan Pokdarwis,” ujarnya.

Ia menyebutkan, tujuan pemda adalah ingin lebih membumikan Lamongan sebagai Bumi Airlangga dan juga situs Patakan sebagai ikon Lamongan, yang juga didukung oleh berbagai temuan arkeologi lainnya.

“Lamongan ini menjadi salah satu tempat persinggahan Airlangga pada zaman itu. Jadi dengan momentum banyak terbukanya situs Patakan, mulai 2020 ini kami mulai meng-upgrade informasi terkait hal tersebut. Termasuk sosialisasi kepada pemuda, pelajar dan mahasiswa untuk mengetahui proses ekskavasi dan cerita tentang Airlangga. Ditambah juga adanya pemberitaan media massa,” tandasnya.

Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional I Made Geria menyatakan rumah peradaban ini mendorong masyarakat untuk mencintai peradaban dan kebudayaan mereka masing-masing.

“Indonesia memang memiliki banyak entitas yang selama ini belum secara maksimal dimanfaatkan untuk praktik baik maupun untuk ekonomi kreatif,” kata Made Geria.

Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional I Made Geria saat talkshow online Situs Patakan, Minggu (29/11/2020). -Foto Ranny Supusepa

Ia menyatakan bahwa peninggalan yang ada di Lamongan memiliki nilai yang sangat penting. Tidak hanya untuk masyarakat Lamongan itu sendiri tapi juga bagi nasional.

“Karena nilai-nilai kebudayaan ini akan mampu mempererat hubungan yang ada saat ini. Demokrasi sudah ada sejak zaman nenek moyang dulu. Peninggalan Airlangga menunjukkan bagaimana ia dipilih oleh rakyat dengan dimotori para pandita dan dalam pemerintahannya selalu melibatkan rakyat, yang merupakan ciri dari demokrasi. Ini merupakan kebanggaan nasional,” paparnya.

Di zaman Airlangga, lanjutnya, juga terlihat bentuk penghargaan pada pluralisme dan toleransi yang terlihat di bangunan-bangunan sunan, di mana arsitek Hindu berpadu dengan kebudayaan asli yang ada di masyarakat.

“Situs-nya sendiri bisa menjadi destinasi wisata budaya, yang dalam masa pandemi ini akan bersifat virtual. Nilainya tentu saja untuk pendidikan.

Intinya adalah untuk pemahaman dan pengenalan masyarakat pada aset yang mereka miliki dan dikembangkan untuk tuntunan dan penumbuhan ekonomi kerakyatan,” paparnya lebih lanjut.

Made Geria menegaskan bahwa upaya membangun rumah peradaban ini tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri, tidak hanya oleh Arkeologi Nasional saja.

“Tapi harus sinergi dengan pemda, perguruan tinggi dan masyarakat. Sehingga aset peradaban ini bisa dimanfaatkan secara maksimal. Juga untuk menunjukkan bahwa kita memiliki akar kebudayaan,” pungkasnya.

Lihat juga...