Mengolah Kopi jadi Ragam Produk Bisnis

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BEKASI – Eni Wartuti, sukses meracik beragam jenis kopi menjadi produk olahan bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Varian produknya pun beragam mulai dari kopi rempah hingga kosmetik yang berbahan baku kopi.

Misalnya produk yang diberi label Kopinang, yakni campuran kopi robusta dan arabika. Dipadu dengan jintan hitam dan pinang muda, mampu memberi stamina bagi pria. Produk tersebut diberi brand  Gandasari Coffee.

“Saat ini ada produk terbaru, namanya Koplangzing green coffee. Sekarang cukup diminati saat Work From Home, dari racikan herbal kopi hijau untuk slimming dan anti aging,” kata Eni Wartuti kepada Cendana News, Selasa (24/11/2020).

Olahan lainnya dari aneka jenis kopi di tanah air, seperti untuk bahan masker wajah atau paduan lainnya. Eni, sapaan akrabnya, sebelumnya sempat mengekspor berbagai produk ke beberapa negara, sebelum pandemi Covid-19 mewabah.

Menekuni bisnis kopi bagi Eni, sudah dilakoni sejak 2016, berawal dari sekilo kopi. Hingga perlahan ia menemukan racikan khas, karena kopi baginya terletak pada cara pemrosesan yang mempertahankan cara tradisional.

Ia melakukan penyangraian (roasting) dengan menggunakan gerabah. Cara itu tak lain untuk mempertahankan kualitas dan cita rasa kopi.

Sejauh ini, Eni memiliki guru khusus yang diakuinya sebagai ayah angkat, yaitu Ade Suryana, tinggal di Ciparay, Kabupaten Bandung. Ade adalah petani kopi sekaligus pemroses kopi profesional sejak 1994.

Melalui ayah angkat tersebut, Eni mulai mempelajari seluk beluk kopi dari hulu hingga hilir. Ia mengaku, awalnya sama sekali tak tahu tentang kopi. Tapi di Bandung, dia belajar banyak tentang kopi. Mulai dari pemetikan, pemrosesan, sampai menjadi bubuk tak lepas dari pengamatannya.

Setelah cukup memahami kopi, akhir tahun 2016, Eni pun merintis usaha kopi dengan brand Gandasari Coffee tersebut. Rumah produksinya ada di wilayah Bekasi utara dan melibatkan tenaga kerja setempat.

Wanita asal Kebumen ini mengaku, berkat keuletannya memasarkan produk dan membangun jaringan untuk mengenalkan produk kopi olahannya, akhirnya berhasil mendapat pesanan.

Tak perlu waktu lama, kurun waktu tiga tahun, usahanya berkembang. Ia pun memberi kunci sukses, yang utama memang  pada cara pengolahan, jika menggunakan gerabah, memang lebih pulen, dan memiliki aroma yang juga lebih khas. Cara itu dipilih Eni juga untuk melestarikan tradisi mengolah kopi yang sudah dilakukan turun-temurun di Indonesia.

Menekuni dunia bisnis baginya bukan hal baru, karena sebelumnya juga sudah pernah jatuh bangun di bidang fashion bahkan properti. Hingga membuatnya pernah jatuh sampai ke titik nol.

Dengan mengusung konsep palugada (apa lu mau gua ada), produk kopi racikan Eni kini sudah dipesan dari berbagai daerah melalui reseller dan lainnya, beromzet cukup lumayan. Dari keseluruhan produk yang ada, ia mengaku beromzet Rp 30 juta per bulan.

“Doakan saja, rencananya, Januari 2021, akan ekspor ke Mesir. Selama pandemi ini, omzet turun drastis hingga 80 persen. Tapi sekarang, mulai bangkit setelah penerapan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB),” ujarnya.

Namun, ia tak ingin menyerah dengan keadaan. Berbagai cara terus ia lakukan agar bisnisnya tetap bertahan. Berkat pengalaman selama belasan tahun di berbagai negara ketika merantau menjadi pekerja, jaringan selama belasan tahun di luar negeri tersebut, juga ia aktifkan kembali.

Tapi, masa pandemi tentu semua berubah total. Ia berharap, pemerintah benar-benar memiliki kesungguhan dalam membantu Usaha Kecil Menengah (UKM).

“Pemerintah harus membantu UKM dengan cara membeli produk-produk kami pelaku UMKM, bukan membeli produk perusahaan-perusahaan besar,” tandasnya.

Eni mengaku, sangat berterima kasih kepada Pemerintah Kota Bekasi yang selama ini telah menunjukkan komitmen untuk membantu UKM dengan cara membeli produk mereka.

Lihat juga...