Meski Permintaan Menurun, Perkakas Bambu Masih Diminati

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

SEMARANG — Pandemi Covid-19 berdampak pada penjualan aneka produk rumah tangga, khususnya peralatan berbahan dasar bambu. Mulai dari tampah, saringan, bakul atau tempat nasi hingga dunak atau keranjang bambu. Hal tersebut diakui, Sunarto, pedagang perkakas rumah tangga di Pasar Bulu Semarang.

Pedagang perkakas bambu, Sunarto, saat ditemui di Pasar Bulu Kota Semarang, Selasa (24/11/2020). Foto Arixc Ardana

“Pandemi covid-19 jelas berpengaruh, penjualan menurun. Jika sehari bisa jual 25 -30 item, pas awal pandemi tidak ada yang beli. Sekarang sudah mulai berangsur normal,” paparnya, saat ditemui di sela berjualan, Selasa (24/11/2020).

Pria paruh baya tersebut mengaku, untuk mempercepat perputaran stok perkakas, dirinya menerapkan penjualan borongan.

“Eceran masih ada satu dua, tapi kebanyakan langsung jual grosir atau jumlah banyak. Para pembeli rata-rata juga berprofesi pedagang, nanti mereka jual lagi,” tambahnya.

Dari segi harga, perkakas bambu relatif lebih terjangkau, dibanding perkakas dari plastik atau alumunium. Didukung, kualitasnya juga cukup bagus, sehingga awet.

“Pada dasarnya perkakas bambu ini ada dua jenis, yakni menggunakan bambu biasa dan bambu oven. Ini bisa dilihat dari warnanya, kalau yang biasa masih warna bambu, krem. Sementara yang oven, berwarna kecoklatan,” tambah pria yang berjualan sejak 2008 tersebut.

Diakuinya dengan bambu oven, kualitas lebih bagus, namun harga juga lebih mahal.

“Misalnya tampah berdiameter 30 centimeter, jika memakai bambu biasa dihargai 15 ribu, sementara dengan bambu oven harganya selisih Rp5 ribu, jadi Rp20 ribu,” terangnya.

Narto mengaku para pembeli datang dari berbagai wilayah, tidak hanya dari Kota Semarang. Namun juga wilayah sekitar, seperti Kendal, Demak, hingga Ungaran.

“Kalau barang-barang ini dikirim dari Magelang, sampai Yogyakarta. Dikirim langsung dari pengrajin,” tandasnya.

Sementara, seorang pembeli, Ponirah, mengaku perkakas bambu tersebut akan dijualnya kembali.

“Saya juga jualan di Pasar Meteseh Tembalang, ambil barang dari sini, nanti dijual lagi. Karena di Pasar Bulu ini sebagai sentranya, jadi banyak pedagang yang kulakan (membeli-red) disini,” lanjutnya.

Perkakas bambu tersebut, lanjutnya, tetap menjadi pilihan masyarakat. Selain harga terjangkau, juga cukup awet. “Terpenting buat perkakas bambu ini, jangan sering kena air. Kalau basah segera dijemur, agar lebih awet,” pungkasnya.

Lihat juga...