Minimalisir Bahan Kimia, Cara Petani di Lamsel Selamatkan Lingkungan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Daun pepaya dan talas yang ditebar Wiyono ludes disantap keong mas berbagai ukuran. Keong mas terkumpul pada satu titik lebih, mudah dipungut lalu dikumpulkan memakai ember.

Teknik ramah lingkungan dalam upaya pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) dilakukannya secara sederhana. Ramah lingkungan dan meminimalisir bahan kimia jadi tujuannya.

Menanam padi untuk konsumsi keluarga membuat Wiyono, petani di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan mengaplikasikan teknik organik. Meminimalisir serangan hama keong sebutnya bisa dilakukan memakai obat kimia, namun tidak dilakukannya. Residu bahan kimia sebutnya berpotensi terserap tanaman hingga ke bulir padi.

Sejatinya Wiyono bilang, bisa memakai molukisida, obat kimia khusus keong mas. Namun imbasnya keong mas yang mati membusuk menimbulkan aroma tak sedap, mencemari lingkungan. Cangkang keong mas tertinggal di area persawahan juga berpotensi menimbulkan luka pada kaki. Solusi ramah lingkungan diterapkan memakai bahan yang bisa diperoleh dari kebun.

“Saya menanam sebanyak mungkin pohon pepaya jenis calina dan talas yang bagian daunnya bermanfaat untuk memancing berkumpulnya hama keong mas. Sebab OPT jenis moluska itu menyukai kedua jenis daun itu apalagi ketika mendekati masa bertelur, saat sudah berkumpul proses pengumpulan keong lebih mudah,” beber Wiyono saat ditemui Cendana News di lahan sawahnya, Rabu (4/11/2020).

Teknik meminimalisir penggunaan bahan kimia sebutnya dilakukan puluhan tahun silam. Penerapan pertanian berbasis pengurangan bahan kimia menjadikan lingkungan tetap terjaga. Ia juga beralasan lokasi sawahnya berada di dekat kantor desa dan sekolah SD hingga SMP. Dampak penggunaan bahan kimia sebutnya akan mengganggu aktivitas dan kesehatan.

Hal yang sama diterapkan olehnya untuk budi daya sayuran. Jenis sayuran sawi, kangkung, timun dan genjer ditanam memakai metode organik. Tanpa memakai bahan kimia ia memastikan kualitas sayuran yang dihasilkan lebih bagus. Meminimalisir residu bahan kimia menghasilkan sayuran organik yang disukai oleh sejumlah warung kuliner.

“Sawi dan timun yang bebas bahan kimia diminati usaha mi ayam bakso dan warung pecel lele,” papar Wiyono.

Petani lain di desa yang sama bernama Stevanus Sukoco, mengaku, ketahanan atau resistensi hama bisa terjadi jika bahan kimia terus digunakan. Atasi hama tikus pada padi yang mulai berbuah ia memilih menggunakan cairan organik berbahan fermentasi daun sirsak, pepaya dan mindi. Selain itu campuran kunyit menjadi bahan untuk menghasilkan cairan obat organik.

Obat organik yang memiliki aroma menyengat akan ditempatkan pada sejumlah titik memakai botol. Sebagian diresapkan dalam kain di dekat lubang persembunyian tikus. Binatang pengerat tersebut akan meninggalkan area sawah yang telah dipasangi bahan organik buatannya. Langkah itu lebih efisien dibandingkan memakai pestisida untuk tikus.

“Tikus yang diberi bahan kimia pestisida kerap mati di sembarang tempat bisa membusuk dan menimbulkan penyakit,” cetusnya.

Stevanus Sukoco mengaku, selain menerapkan ramuan organik untuk hama tikus ia memiliki teknik ramah lingkungan lainnya. Pemasangan plastic barrier atau pagar plastik dan perangkap plastik menjadi solusi atasi hama tikus.

Hama walang sangit yang kerap menyerang diatasi olehnya dengan pembuatan perangkap terasi, bangkai kepiting dan ikan asin. Saat mendekati perangkap walang sangit akan mati tanpa menyerang padi.

Meminimalisir bahan kimia sebagai cara bertani ramah lingkungan dilakukan Juminah, warga Desa Taman Sari, Kecamatan Ketapang.

Juminah, ibu rumah tangga di Desa Tamansari, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, memetik bawang daun yang ditanam organik, Rabu (4/11/2020) – Foto: Henk Widi

Ia menanam sayuran sawi, kangkung, bayam dan bawang daun serta sayuran lain memakai media polybag. Media tanam memanfaatkan pupuk organik dari kompos. Ia juga tidak memakai pupuk kimia.

Langkah menjaga tanaman dari pengaruh bahan kimia membuat ia yakin kualitas sayurannya. Proses mencuci dengan air mengalir membuatnya ia tetap yakin akan kebersihan sayuran miliknya. Tanaman sayuran yang dihasilkan bebas bahan kimia dan tidak mengganggu keseimbangan lingkungan.

Penggunaan bahan kimia untuk memusnahkan gulma tetap dilakukan sebagian petani. Mamat, petani cabai mengaku gulma rumput disemprot memakai herbisida.

Mamat, petani di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, tetap memakai herbisida untuk memusnahkan gulma pada tanaman cabai, Rabu (4/11/2020) – Foto: Henk Widi

Namun ia memastikan proses penyemprotan dilakukan dengan kadar terbatas. Tibanya musim hujan berimbas suburnya rumput sehingga herbisida diperlukan.

Hal yang sama diterapkan pada tanaman cabai usia lebih dari 60 hari. Penggunaan bahan kimia diterapkan olehnya untuk mengatasi hama trip.

Sebab selama ini belum bisa diatasi penyakit penyebab daun keriting. Meski tetap memakai bahan kimia takaran yang dipergunakan tetap dalam dosis ambang batas yang masih ditoleransi lingkungan. Sebab aroma obat kimia kerap mengganggu kualitas udara.

Lihat juga...