Nelayan di Lamsel Pertahankan API Ramah Lingkungan

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Nelayan tangkap di pesisir timur Lampung Selatan mempertahankan alat penangkap ikan (API) ramah lingkungan, yang telah digunakan sejak puluhan tahun silam.

Suku, salah satu nelayan yang tinggal di aliran sungai Way Sekampung, menyebut alat penangkap ikan ramah lingkungan itu digunakan sebagai upaya menjaga kelestarian biota laut. Warga Dusun Bunut Utara, Desa Bandar Agung,Kecamatan Sragi, itu mengatakan, bahwa sejumlah API yang dipergunakan oleh nelayan setempat meliputi sodong, bubu kawat, bubu bambu, jaring, pancing rawe dasar dan anco.

“Meski memakai API tradisional, nelayan tetap memperoleh hasil tangkapan maksimal, meliputi rebon, ikan pepirik, teri jengki dan berbagai ikan pelagis. Penggunaan bom dan racun ikan belasan tahun silam sudah ditinggalkan,” kata Suku, saat ditemui Cendana News, Rabu (18/11/2020).

Suku, nelayan tangkap di Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi, Lampung Selatan, memakai jaring dan anco untuk menangkap ikan di perairan timur, Rabu (18/11/2020). -Foto: Henk Widi

Menurut Suku, penggunaan alat tangkap ikan jenis bom karbit yang bertujuan untuk membuat ikan mabuk mulai dilarang. Pelarangan alat tangkap lain jenis jaring pukat harimau telah dilakukan oleh pihak terkait. Semenjak penghentian alat tangkap merusak lingkungan, biota laut mulai pulih, terutama di pantai timur. Tanaman mangrove juga terbebas dari residu bahan kimia.

“Saat ini, nelayan memilih memakai alat penangkap ikan ramah lingkungan agar kelestarian biota laut terjaga,khusus untuk anco dan sodong yang didasarkan pada perairan tidak menganggu, karena pantai timur didominasi lumpur, hanya bagian tanah timbul atau endapan lumpur mulai dijadikan tempat menanam mangrove,” terang Suku.

Suku menjelaskan, hasil tangkapan ikan teri, rebon, pepirik dan ikan kepala batu kerap dijadikan bahan pembuatan ikan asin. Penangkapan ikan berkelanjutan menjadi salah satu tujuan agar nelayan bisa mendapatkan hasil pada siklus berikutnya. Selama musim kemarau, menjadi masa bertelur ikan sembilang dan saat musim penghujan ikan akan menepi. Area berlumpur dan hutan mangrove menjadi habitat ikan sembilang yang selalu dijaga.

Selain di pesisir pantai, sebagian nelayan memilih menangkap ikan di sejumlah kanal. Memanfaatkan jaring, sodong dan anco, fenomena pasang dan banjir laut bisa menjadi sumber pengasilan. Saat pasang, air laut membawa berbagai jenis ikan air payau yang bermigrasi. Sebagian nelayan akan memperoleh udang, ikan belanak, ikan, bandeng, dan kakap putih. Pemasangan jaring dan bubu menjadi API ramah lingkungan yang dipertahankan sejak puluhan tahun silam.

“Saya memiliki ratusan bubu bambu, sehingga bisa memasangnya di sejumlah kanal dan pintu air terhubung dengan sungai Way Sekampung,” cetusnya.

Ahmad Rizal, ketua kelompok nelayan Usaha Baru, menyebut kesadaran menjaga lingkungan pesisir mendorong warga mempertahankan API ramah lingkungan. Memanfaatkan alat tradisional meski hasil tangkapan terbatas, akan menjaga siklus hidup sejumlah biota laut. Sistem pemilahan ikan seusai ukuran, menjadi cara menjaga keberlangsungan sumber tangkapan.

“Ikan sembilang atau lele laut yang kecil akan dilepaskan, karena hanya dipilih yang besar agar siklus terjaga,” bebernya.

Sosialisasi untuk menjaga kelestarian pesisir, sebut Ahmad Rizal, juga dengan meminimalisir pembuangan sampah. Menurutnya, sampah plastik yang dibuang kerap menjadi sumber pendangkalan di wilayah muara sungai. Mempertahankan alat penangkap ikan ramah lingkungan juga didorong oleh pemanfaatan sepadan pantai. Sebagian tambak yang memakai bahan kimia, mulai membuat saluran khusus, agar sisa panen tidak dibuang ke kanal.

Lihat juga...