Nelayan di NTT Masih Mencari Ikan Dengan Bom

Direktur Kepolisian Peraoran dan Udara (Polairud) Polda NTT, Kombes Pol Andreas, saat memberikan keterangan kepada wartawan di Kupang tentang aktivitas pengeboman ikan oleh nelayan setempat – foto Ant

KUPANG – Nelayan di NTT, diminta untuk menghentikan praktek penangkapan ikan dengan cara pengemboman ataupun dengan menggunakan bahan kimia. Hal tersebut membuat terumbu karang di daerah tersebut banyak yang rusak.

“Saya sering menyelam di beberapa spot menyelam di dasar laut di NTT dan sering melihat banyak sekali terumbu-terumbu karang di dasar laut hancur semua,” kata Direktur Kepolisian Perairan dan Udara (Polairud) Polda NTT, Kombes Pol Andreas kepada wartawan di Kupang, Rabu (25/11/2020).

Hal itu disampaikan, berkaitan dengan maraknya kasus pengeboman ikan di wilayah hukum Ditpolairud Polda NTT, yang kemudian berhasil diamankan oleh pihak kepolisian. Menurutnya, terlihat sekali perbedaan antara terumbu karang yang di bom dan yang dijaga dengan sangat baik. Yang sudah dibom tentu saja sulit untuk menemukan ikan. Tetapi yang dijaga dan tidak dibom, justru banyak sekali ikan-ikannya. “Hal itu dikarenakan, terumbu karang menjadi tempat berkembang biaknya ikan-ikan di dasar laut,” jelasnya.

Andreas mengatakan, untuk menjaga kembali agar terumbu karang itu bisa tumbuh bagus, dan menjadi tempat tinggal ikan-ikan membutuhkan waktu bertahun-tahun. Sebab, tumbuhnya karang itu setiap tahun hanya satu sentimeter saja. “Kita harus transplantasi lagi karangnya, namun butuh waktu bertahun-tahun,” tuturnya.

Para pelaku pengeboman ikan, yang kemudian merusak terumbu karang sudah pasti akan dihukum, sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Kasus terakhir yang ditangani adalah, pada awal November lalu. Penangkapan dilakukan kepada nelayan, yang menangkap ikan di wilayah perairan Kupang dengan cara mengebom. Pelakunya langsung ditangkap dan diproses secara hukum.

Polairud Polda NTT, selama ini terus menerus melakukan sosialisasi kepada masyarakat, khususnya nelayan terkait aktivitas pengeboman ikan tersebut. Namun masih ada nelayan yang acuh tak acuh, dengan apa yang sudah disampaikan. Sehingga kembali melakukan tindakan melanggar hukumnya. “Oleh karena itu saya harapkan teman-teman media juga bisa ikut terlibat membantu kami mensosialiasikan bahaya penangkapan ikan dengan cara bom tersebut,” tandas Andreas. (Ant)

Lihat juga...