Nelayan Lamsel Istirahat Melaut Imbas Cuaca Buruk

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Sejumlah nelayan di Lampung Selatan memilih istirahat melaut imbas kondisi cuaca buruk. Selama istirahat, nelayan memilih melakukan perbaikan peralatan tangkap.

Suradi, salah satu nelayan di Muara Piluk, Bakauheni, Lampung Selatan memperbaiki bagian dinding perahu. Perbaikan dilakukan mencegah kebocoran.

Masa paceklik ikan sebut Suradi diakibatkan angin selatan disertai gelombang pasang. Sebagian nelayan menghindari risiko kecelakaan di laut imbas cuaca tidak bersahabat. Perbaikan alat tangkap jadi aktivitas nelayan untuk mengisi waktu luang menunggu kondisi cuaca kembali membaik. Ia memilih kayu jati untuk perbaikan dinding perahu.

Kerusakan dinding perahu kasko lanjut Suradi imbas menabrak karang dan vender dermaga. Selain usia perahu lebih dari lima tahun bagian papan terbuat dari kayu jati mulai rusak. Selain perbaikan perahu sejumlah nelayan membersihkan keranjang ikan,memperbaiki jaring,bambu pengangkat jaring dan mengecat lambung perahu.

“Sebagian nelayan yang kondisi perahu dan kapan bagan congkelnya masih baik memilih ngebabang atau pulang kampung bertemu keluarga sembari menunggu cuaca normal untuk memulai aktivitas melaut di perkirakan sepekan lagi,” terang Suradi saat ditemui Cendana News di Muara Piluk, Bakauheni, Senin (16/11/2020.

Suradi melakukan perbaikan dinding kapal mempergunakan kayu jati, Senin (16/11/2020). -Foto Henk Widi

Pemilihan kayu untuk dinding perahu sebutnya berasal dari jenis kayu awet kelas satu. Setelah diganti dengan kayu jati dinding perahu akan diberi dempul dan diberi cat. Cara tersebut dilakukan untuk menjaga keawetan sarana tangkap ikan yang dimiliki. Satu kali proses perbaikan perahu yang dilakukan setiap tiga bulan ia harus mengeluarkan biaya ratusan ribu hingga jutaan.

Solikin, salah satu bidak atau anak buah kapal bagan congkel memilih mengganti bambu pengangkat waring. Sarana alat tangkap pada kapal bagan congkel itu menggunakan bambu petung. Penggantian bambu dilakukan untuk memperkuat alat pengangkat waring. Sebab selama ini bambu telah digunakan berbulan bulan. Saat kondisi cuaca tak bersahabat lebih dari satu pekan jadi waktu melakukan reparasi peralatan.

“Bambu digunakan sebagai pengangkat jaring dipilih yang ringan dan lurus namun sudah cukup tua agar awet,” beber Solikin.

Pada kondisi normal nelayan bagan congkel akan melaut untuk berburu cumi cumi dan teri. Dua hasil tangkapan tersebut rata-rata diperoleh ratusan cekeng atau mencapai satu ton. Namun saat kondisi paceklik ikan hasil tangkapan maksimal hanya mencapai belasan kuintal. Nelayan bagan congkel akan kembali melaut saat kondisi cuaca membaik.

Waktu istirahat melaut bagi sebagian bidak lanjut Solikin digunakan untuk pengecekan mesin. Performa mesin bagan congkel yang menurun kerap dicek dengan proses penggantian oli. Berbagi tugas bagi para bidak menjadi cara untuk menyiapkan alat tangkap pada saat kondisi cuaca membaik. Sebagian bidak juga melakukan pendempulan dan pengecatan bagian lambung kapal saat masa isturahat.

Nurpendi, pekerja di tempat pengeringan teri dan ikan asin Muara Piluk mengaku bahan baku berkurang. Pasokan bahan baku teri dan ikan tanjan rata rata dari sejumlah nelayan mencapai dua ton. Namun imbas cuaca buruk pasokan hanya mencapai belasan kuintal. Sebagian teri yang dikeringkan memenuhi kebutuhan pasar lokal menunggu pasokan bahan baku normal.

“Pengrajin teri dan ikan asin juga mengisi waktu istirahat dengan memperbaiki alat pengeringan senoko dan waring,” cetusnya.

Di perairan Kalianda, sejumlah nelayan memanfaatkan perbaikan total perahu di lokasi docking. Ahmad Subarkah pemilik kapal nelayan 206-6 menyebut telah menaikkan kapal miliknya dengan kawat seling. Memanfaatkan bantalan roda pada alat docking ia bisa memperbaiki bagian lunas dan dinding bawah perahu. Perbaikan dilakukan untuk mencegah kebocoran.

Perbaikan tingkat sedang hingga berat sebut Ahmad Subarkah butuh waktu sekitar dua pekan. Selain perbaikan ia melakukan proses pengecatan dengan mesin kompresor. Proses pengecatan akan didahului dengan pemberian dempul. Sebab bagian kayu perahu kerap rusak imbas cat dan dempul mengelupas. Pengecatan dan pendempulan meningkatkan keawetan kayu.

Sejumlah nelayan tangkap di dermaga Bom Kalianda yang berada di pesisir barat Lampung itu juga memilih memperbaiki alat tangkap. Lukman dan Sairun, memilih memperbaiki pancing rawe dasar dan jaring. Dua alat tangkap tersebut dipersiapkan untuk proses penangkapan ikan saat cuaca membaik. Kondisi cuaca didominasi gelombang pasang cukup berisiko terutama bagi perahu nelayan ukuran kecil.

Lihat juga...