November, Banyumas Targetkan Luasan Tanam Hingga 22 Ribu Hektar

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

PURWOKERTO — Meskipun wilayah Banyumas Timur masih belum bisa memulai masa tanam karena area sawah terendam banjir, namun beberapa wilayah lain sudah mulai tanam padi. November ini, Dinas Pertanian (Dinpertan) menargetkan luasan tanam mencapai 22.000 hektare.

Kepada Dinas Pertanian (Dinpertan) Kabupaten Banyumas, Widarso di kantornya, Senin (9/11/2020). (FOTO : Hermiana E.Effendi)

Kepala Dinpertan Kabupaten Banyumas, Widarso mengatakan, pada Oktober kemarin, luasan tanam tercapai 2.900 hektare. Beberapa petani di wilayah sawah tadah hujan sedang melakukan tanam padi secara maraton.

“Kita targetkan bulan ini area tanam mencapai 22.000 hektare dan kita optimis itu bisa tercapai, sebab di wilayah Kecamatan Purwojati dan Gumelar misalnya, sekarang petani sedang tanam padi,” kata Widarso, Senin (9/11/2020).

Untuk target tanam Kabupaten Banyumas hingga akhir tahun ini seluas 32.000 hektare. Widarso mengatakan, target tersebut akan tercapai, mengingat sudah banyak petani yang mulai tanam padi saat ini.

“Kalau di daerah tadah hujan, petani mengejar tanam kedua ini, karena khawatir kekurangan air, sehingga selagi masih ada hujan, mereka berusaha untuk mempercepat tanam,” jelasnya.

Lebih lanjut Widarso menjelaskan, untuk setiap musim tanam Dinpertan Banyumas targetkan 32.000 hektare, mengingat target luasan tanam pertahunnya mencapai 68.000 hektare. Di Kabupaten Banyumas sendiri total luasan lahan sawah mencapai 32.255 hektare, terdiri dari sawah irigasi seluas 24.752 hektare dan sawah tadah hujan ada 7.503 hektare. Untuk lahan pertanian bukan sawah ada 61.590 hektare, terdiri dari kebun, ladang atau huma, hutan rakyat, padang rumput dan lainnya.

“Musim taman I kemarin mundur, namun target tanam tercapai. Pada musin taman II ini, kita kejar target,” ucapnya.

Sementara itu, salah seorang petani yang sawahnya tadah hujan, Gianto mengatakan, saat ini tanaman padi miliknya sudah masuk usia satu minggu dan pertumbuhannya cukup bagus, karena cukup air.

“Sudah tanam sejak seminggu lalu, sebelumnya dilakukan penyemaian. Sekarang masih ada hujan, jadi memang kita percepat, begitu selesai panen, langsung mengolah sawah,” tuturnya.

Gianto mengatakan, pada musim tanam I lalu, sangat minim air, karena musim hujan mundur, sehingga ia tidak berani menanam lebih awal dan menunggu turun hujan, karena sawahnya hanya bergantung pada hujan untuk pengairannya.

“Kemarin tunggu hujan agak sering, baru mulai menanam. Karena tanaman padi pada usia muda, masih membutuhkan banyak air,” pungkasnya.

Lihat juga...