Obwis Bukit Tempurung Tingkatkan Kesejahteraan Warga Lubuk Bangkar

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Kepala Zakat Community Development Badan Amil Zakat Nasional (ZCD Baznas), Tatiek Kancaniati mengaku bangga hadirnya objek wisata (obwis) Puncak Tempurung Garden atau Bukit Tempurung memberi warna kehidupan  masyarakat Desa Lubuk Bangkar menjadi lebih sejahtera. 

Objek wisata ini terdapat di wilayah desa binaan Baznas, tepatnya di Desa Lubuk Bangkar, Kecamatan Batang Asai, Kabupaten Sarolangun, Jambi. Kini objek wisata Puncak Tempurung Garden masuk 10 nominasi Anugerah Pesona Indonesia (API) 2020.

Menurutnya, sebelumnya Desa Lubuk Bangkar ini hanyalah sebuah desa kecil yang belum mendapatkan aliran listrik dan bahkan masuk kategori desa tertinggal.

Pada tahun 2018, Baznas hadir melakukan pemberdayaan desa dengan berbagai program, seperti pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Micro Hidro (PLTMH) hasil kerja sama dengan organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk pembangunan dunia  (United Nations Development Programme/UNDP).

“Desa Lubuk Bangkar merupakan desa yang belum mendapatkan akses listrik hingga tahun 2018. Ini karena jarak menuju desa itu jauh dan jalanan rusak. Alhamdulillah Baznas bisa masuk membangun akses listrik,” ujar Tatiek, pada konferensi pers Baznas secara virtual di Jakarta, Minggu (29/11/2020).

Kepala Zakat Community Development Badan Amil Zakat Nasional (ZCD Baznas), Tatiek Kancaniati pada konferensi pers Baznas secara virtual di Jakarta, Minggu (29/11/2020). -Foto: Sri Sugiarti

Selain itu, juga terdapat program peningkatan ekonomi warga Lubuk Bangkar dengan memaksimalkan potensi sumber daya alam (SDA) setempat.

Di antaranya, pemberdayaan usaha olahan kopi, usaha keripik pisang, usaha kue, usaha menjahit, usaha kerajinan anyaman, budidaya pertanian sayur, budidaya ikan dan peternakan domba,” ujar Tatiek.

Dengan keindahan pesona alamnya, Baznas berkomitmen mengembangkan desa Lubuk Bangkar dengan mem-branding Puncak Tempurung Garden sebagai destinasi wisata.

Dalam pengembangan objek wisata ini akses jalan pun mulai dibenahi. Sehingga menurutnya, jalan sudah tidak rusak dan becek apabila hujan turun. “Setelah jadi wisata, ada akses jalan yang diperbaiki, tidak rusak parah lagi,” imbuhnya

Sebelumnya, jelas dia, akses jalan ke Desa Lubuk Bangkar sangat sulit, karena desa ini berada di tengah hutan. Perjalanan dari Kabupaten Sarolangun hingga ke desa itu ditempuh selama 4 jam melewati hutan jati.

“Bayangkan desa ini di tengah hutan, dan di sepanjang menuju desa itu juga banyak komunitas suku anak dalam yang masih pakai koteka,” jelasnya.

Dengan segala tantangan dalam melakukan pemberdayaan desa. Kini menurutnya, kehidupan masyarakat Desa Lubuk Bangkar menjadi sejahtera.

Karena aspek ekonomi seperti program pengolahan kopi usaha kecil menengah (UKM) Tani Rawa, dan objek wisata Puncak Tempurung Garden, multiplier effect-nya sangat bagus.

“Yang tadinya kita fokus hanya memberdayaan beberapa orang miskin di sana. Sekarang mustahik di Desa Lubuk Bangkar mulai berkembang seputar ekonomi mereka,” ujar Tatiek.

Bahkan dengan adanya Bukit Tempurung tambahnya, menjadikan banyak yang terlibat. Seperti, warga membuka warung atau kantin di area wisata itu. Ada juga yang buka toko souvenir yang menjual kerajinan tangan warga setempat.

Selain itu, pengunjung juga bisa membeli kopi produksi pelaku UKM yang lokasinya berada di objek wisata tersebut.

Sehingga menurutnya, keberadaan Bukit Tempurung mampu mendongkrak pendapatan warga desa Lubuk Bangkar.

“Kalau daya beli pengunjung meningkat, otomatis pendapatan mereka juga meningkat.Kesejahteraan hidup mereka lmeningkat dari sebelumnya. Artinya ada index kemiskinan yang berkurang,” tukasnya.

Kembali Tatiek menegaskan, dalam pembinaan pemberdayaan yang terprogramkan 3 tiga tahun. Kini dalam perjalanan 2 tahun, Desa Lubuk Bangkar sukses menuai kebanggaan dari semangat masyarakat yang ingin berkembang dan sejahtera.

“Kita datang ke sana itu dalam kondisi gelap gulita, tidak ada penerangan. Jadi kita bantu dari sisi penerangan, setelah itu baru aspek usaha yang dibina. Alhamdulilah Desa Lubuk Bangkar statusnya sekarang sudah berubah di November 2020 menjadi desa tertinggal dari sebelumnya desa sangat tertinggal,” pungkasnya.

Lihat juga...