Obwis Kuliner Dermaga Bom Kalianda Mulai Ramai

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sejumlah pelaku usaha di objek wisata kuliner dermaga Bom, Kalianda, Lampung Selatan, tampak mulai bergeliat. Usai pembatasan kunjungan imbas pandemi Covid-19, sejumlah pelaku usaha kembali membuka toko atau kafe. Penyedia jasa wahana permainan anak, pedagang makanan keliling, juga kembali menyemarakkan suasana.

Malik, pedagang es jeruk peras di dermaga Bom Kalianda, menyebut destinasi wisata kuliner tersebut kembali ramai dikunjungi masyarakat. Memanfaatkan mobil sebagai toko keliling, ia menjual minuman es jeruk peras di dekat amphiteather. Spot yang merupakan tempat pertunjukan seni dan kebudayaan terletak di dekat patung tupping atau topeng.

Ia menyebut, kunjungan ke objek wisata kuliner dermaga bom Kalianda kerap ramai saat akhir pekan. Keberadaan tempat pelelangan ikan, pasar ikan higienis jadi salah satu daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung. Kunjungan akan makin meningkat saat sore hari, karena wisatawan sebagian ingin menikmati suasana matahari terbenam (sunset).

Pemilik usaha penjualan es jeruk peras, Malik dan sang anak, mencoba peruntungan di dermaga Bom Kalianda, Lampung Selatan, Minggu (15/11/2020). -Foto: Henk Widi

“Dampak positif dibukanya destinasi wisata kuliner dermaga Bom Kalianda, jadi berkah bagi pelaku usaha seperti saya, bisa kembali mencari rezeki dan bisa meramaikan suasana objek wisata yang jadi maskot kota Kalianda,” terang Malik, saat ditemui Cendana News, Minggu (15/11/2020).

Menjual minuman es jeruk peras, sebut Malik, dalam sehari ia bisa berpindah ke beberapa lokasi. Saat pagi, ia memilih berjualan di dekat tugu Adipura Kalianda yang digunakan masyarakat untuk olah raga lari dan bersepeda hingga siang. Setelah itu, ia mulai berpindah ke objek wisata kuliner dermaga Bom Kalianda. Selain bagi wisatawan, nelayan juga menjadi pelanggan tetapnya.

Meski kembali bergeliat, objek wisata pantai dermaga Bom Kalianda belum banyak menggelar acara. Sebelum pandemi, pertunjukan seni, kegiatan sosial, dan olah raga kerap digelar di kawasan menghadap Teluk Kalianda itu. Dilarangnya aktivitas mengundang kerumunan massa membuat destinasi wisata kuliner dermaga Bom hanya ramai setiap akhir pekan.

Santi, salah satu pedagang otak otak khas Kalianda, mengaku mulai kembali berjualan awal Agustus silam. Otak otak yang merupakan makanan tradisional dari daging ikan, tepung aci menjadi buruan wisatawan. Ia memilih menyiapkan stok otak otak dalam jumlah terbatas, sebagian untuk melayani pesanan. Sehari ia bisa menjual 500 buah otak otak dengan harga Rp1.000 per buah.

Destinasi wisata kuliner dermaga Bom Kalianda, lanjut Santi, menjadi tempat favorit untuk bersantai. Sejumlah pelaku usaha kuliner telah menyediakan kursi, meja yang telah diatur jaraknya. Langkah tersebut untuk menjaga protokol kesehatan, termasuk memberi sarana tempat cuci tangan dengan sabun.

“Selain menjual langsung otak otak di dekat dermaga Bom Kalianda, otak otak buatan saya banyak dipesan online, sehingga pemesan tidak perlu datang,” bebernya.

Selly dan Anisa, pengunjung destinasi wisata kuliner dermaga Bom Kalianda, memilih bersantai di dekat tugu tupping. Suasana sejuk dan nyaman dengan berbagai jenis kuliner tradisional bisa dinikmatinya. Saat datang ke objek wisata kuliner dermaga Bom Kalianda, ia memilih menikmati otak otak dan bakso ikan. Selain itu, pemandangan gunung, laut bisa dinikmati secara bersamaan.

“Kami kerap datang ke objek wisata dermaga bom Kalianda untuk menunggu suasana sore dan membeli ikan laut segar di pelelangan,” bebernya.

Stevani, pengunjung wisata kuliner Kalianda, menyebut angin semilir dan suasana pantai cocok dinikmati sembari menikmati es kelapa muda. Mengajak serta anaknya ia bisa memperkenalkan aktivitas nelayan yang sandar dan melakukan aktivitas pelelangan ikan. Berburu ikan segar di area pasar ikan higienis sekaligus menjadi kegiatan rekreatif pengisi akhir pekan.

Lihat juga...