Padi Organik Mulai Dikembangkan Masyarakat Kamang Mudiak Agam

LUBUKBASUNG — Masyarakat Nagari Kamang Mudiak, Kecamatan Kamang Magek, Kabupaten Agam, Sumatera Barat mulai mengembangkan padi organik dengan sistem tanam jajar legowo.

“Tanaman padi sistem organik tersebut selain menjaga kualitas tanah juga meningkatkan hasil produksi padi,” kata Ketua Kelompok Tani Sawah Bansa Riza Yendra saat panen raya sekolah lapangan iklim BMKG Padang Pariaman di Kamang Magek, Jumat.

Menggalakkan tanam padi secara organik kini mulai dikenal luas dimasyarakat di daerah itu seiring dijadikannya daerah mereka sebagai pusat percontohan klaster padi organik oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Padang Pariaman.

Hingga kini satu persatu pelaku pertanian terutama yang tergabung dalam kelompok tani telah mulai mempraktikkan langsung menanam padi organik.

Ia mengaku selain bernilai ekonomi tinggi banyak keunggulan yang didapatkan dengan menanam padi organik, terutama menjaga lahan pertanian untuk perbaikan ekosistem.

Sebagai perbandingannya petani yang telah memulai menerapkan sistem tanam padi organik di satu bidang sawah yang sama akan menghasilkan padi lebih banyak dari non organik, bahkan hampir terjadi peningkatan produksi dua kali lipat.

“Untuk hasilnya terjadi peningkatan bahkan di satu lahan sawah yang sama bisa menghasilkan padi dua kali lipat dibanding sebelumnya,” ujarnya.

Meski masyarakat setempat belum banyak yang mengonsumsi beras dari padi organik tersebut, namun ia bersama kelompok tani lainnya tidak merasa kesulitan dalam memasarkan produk.

Bahkan permintaan beras organik dari Provinsi Riau bisa melebihi dari hasil produksi panen padi petani didaerah itu.

“Kalau untuk pemasaran kita pasarkan secara online, yang banyak permintaan itu untuk wilayah Riau bahkan untuk panen musim ini kurang lebih empat ton beras permintaan,” katanya.

Anggota kelompok tani lainnya Endriani (39) mengatakan selain tergabung ke dalam kelompok tani sawah bansa, ia juga telah mulai menerapkan tanam padi organik di sawah miliknya.

Pada mulanya masa peralihan tanam padi dari non organik menjadi organik terjadi penurunan produksi padi 20 hingga 30 persen, hal itu berlangsung hingga dua sampai tiga kali panen.

“Alhasil setelah itu di panen selanjutnya terjadi peningkatan produksi padi melebihi dari yang sebelumnya dan biaya yang dikeluarkan relatif lebih ringan,” ujarnya.

Teknikal Servis Bank Indonesia perwakilan Sumatera Barat Nofrizal mengatakan sekolah lapang iklim oleh BMKG ini salah satu media bagi petani untuk belajar dan memahami tentang situasi iklim.

Sehingga dengan sekolah lapang ini BMKG memiliki media untuk menyampaikan ke petani apa yang petani belum mengetahuinya.

“Dengan informasi yang disampaikan tersebut petani tahu akan dampaknya dilapangan, misalnya kalau data ini apa yang harus dilakukan kalau data ini apa pula yang dikerjakan,” katanya.

Untuk jenis varietas semua varietas padi cocok untuk ditanam secara organik bahkan untuk tanaman padi yang rentan terserang hama.

“Semua jenis varietas padi bisa untuk tanaman organik, kalau organik itukan cara bagaimana untuk mengelola,” katanya.

Sementara Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Padang Pariaman Heron Tarigan mengatakan pelaksanaan sekolah lapang iklim bertujuan membantu para petani cara bercocok tanam dengan baik serta mempelajari keadaan iklim.

Dengan mempelajari proses penanaman dan perubahan iklim tersebut para petani dapat menyesuaikan perlakuan tanaman dengan iklim untuk menghindari gagal panen terutama dilahan sawah tadah hujan.

Selain itu BMKG juga memberikan alat pengukur curah hujan bagi petani didaerah itu untuk mengetahui berapa banyaknya curah hujan. [Ant]

Lihat juga...