Padi PK 7 Unsoed Dibudidayakan Secara Luas

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PURWOKERTO – Padi jenis PK 7 hasil riset dari Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, mulai dibudidayakan secara luas, setelah padi tersebut lolos dalam sidang penilaian dan evaluasi varietas tanaman pangan.

Ketua Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Berbasis Riset Unsoed, Dyah Susanti mengatakan, padi jenis PK 7 tersebut telah melalui proses riset yang cukup panjang. Diawali dari perakitan varietas unggul padi berdasarkan potensi pasar atau market based breeding, kemudian masuk ke proses seleksi.

“Proses seleksi ini berlangsung sekitar dua tahun, kemudian baru masuk tahap pengujian daya hasil dan uji multilokasi. Uji multilokasi ini minimal pada 16 lokasi dan dilakukan pada musim tanam yang berbeda. Hasilnya harus lebih tinggi dari varietas unggul yang sudah ada, serta memiliki ketahanan terhadap serangan hama dan penyakit,” jelas Dyah, Senin (2/11/2020).

Lebih lanjut Dyah mengatakan, untuk uji ketahanan hama dan penyakit memakan waktu sampai 8 tahun. Setelah dinyatakan lolos, baru masuk tahap pelepasan varietas.

Padi PK 7 Unsoed ini merupakan galur padi sawah protein tinggi yang memiliki keunggulan daya hasil tinggi, dimana hasil panennya bisa mencapai 9,71 GKG ton/hektare. Hasil panen tersebut melebihi padi jenis Ciherang.

Selain itu, PK 7 Unsoed juga mempunyai stabilitas hasil yang tinggi. Daya hasil dan stabilitas hasil tinggi ini merupakan keunggulan utama yang dipenuhi padi PK 7 Unsoed. Ketahanan terhadap serangan hama juga menjadi salah satu keunggulan padi jenis ini.

“Berdasarkan hasil pengujian, PK 7 Unsoed ini memiliki ketahanan terhadap penyakit Hawar Daun Bakteri (HDB) patotipe IV dan VIII dengan kriteria agak tahan, juga terhadap blas ras 033 dan 073. Padi ini juga memiliki ketahanan terhadap hama wereng batang coklat biotipe 1 dengan kriteria agak tahan. Keunggulan lainnya, padi ini memiliki postur pendek, sehingga lebih tahan rebah,” terangnya.

Sementara kandungan protein PK 7 Unsoed mencapai 10.72 persen, melebihi padi pada umumnya yang kisaran proteinnya hanya 7 – 8 persen. Tingginya protein padi jenis ini, diharapkan mampu memenuhi kebutuhan gizi masyarakat.

Setelah padi tersebut lolos dalam sidang penilaian dan evaluasi varietas tanaman pangan, kini mulai diproduksi benihnya dan disebarluaskan kepada masyarakat. PK 7 ini selanjutnya bisa dijual bebas, bisa juga ke teaching industry untuk diolah dan di-branding sebagai totogi protein tinggi.

Salah satu petani, Madyarjo mengatakan, selama ini ia sudah menjadi mitra Unsoed dalam pengembangkan padi jenis baru. Dan sejauh ini hasilnya selalu memuaskan, sehingga ia juga siap untuk budi daya padi PK 7 Unsoed.

“Hasil panennya selalu bagus, sesuai dengan yang disampaikan. Sepanjang kita mengikuti metode penanaman dan pemupukan sesuai dengan yang disarankan. Dan yang pasti harga jualnya juga tinggi, jadi sangat membantu para petani,” tuturnya.

Lihat juga...