Panas Berkepanjangan Hasil Produksi Mete di Sikka, Anjlok

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Sebagai salah satu sentra penghasil jambu mete di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), produksi mete di Kabupaten Sikka tahun 2020 menurun drastis akibat panas berkepanjangan.

Meskipun harga jual mete mengalami kenaikan, produksi mete diperkirakan menurun hingga 100 persen sehingga menyebabkan para petani pun mengalami kerugian akibat dampak kemarau panjang.

“Hampir semua petani mengalami kerugian akibat panen mete mengalami penurunan drastis,” sebut Bernadus Brebo, petani mete di Kampung Wairbukan, Desa Wairterang, Kabupaten Sikka, NTT, saat ditemui di Maumere, Senin (9/11/2020).

Ketua RT 17 Kampung Wairbukan, Desa Wairterang, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, NTT, Bernadus Brebo saat ditemui di rumahnya, Senin (9/11/2020). Foto: Ebed de Rosary

Bernadus mengatakan, biasanya satu pohon mete berumur 10 tahun dan bercabang banyak. Dalam satu musim panen bisa menghasilkan 200 hingga 300 kilogram, namun tahun 2020 hanya maksimal 100 kilogram saja.

Dirinya menyebutkan, semua petani yang menanam mete di sekitar halaman rumah dengan umur tanaman mete di atas 10 tahun semuanya mengalami penurunan produksi.

“Apalagi tanah di kampung kami tergolong tanah keras dan kering. Saat musim panas tanah pun terbelah sehingga pohon mete tidak berbuah lebat apabila tidak ada hujan sama sekali,” terangnya.

Kondisi serupa pun kata Bernadus, terjadi untuk tanaman mete yang berumur di bawah 10 tahun terutama berumur 5 tahun yang seharusnya produksinya lebih banyak, namun tetap mengalami penurunan.

Padahal menurutnya, harga jual mete gelondongan sebesar Rp15 ribu per kilogram naik dari Rp10 ribu per kilogram. Namun harga tersebut masih minim menurut petani, karena biasanya bisa mencapai Rp25 ribu per kilogram.

“Saat ini harga jual mete gelondongan sebesar Rp15 ribu per kilogram. Apabila sudah dikupas bijinya maka kacang mete bisa dijual hingga Rp200 ribu per kilogram. Tetapi petani tidak bisa mengupas karena ketiadaan alat,” terangnya.

Petani mete lainnya di Desa Wairterang, Leonardus Lere mengaku, akan menebang tanaman mete di kebunnya dan mengganti dengan tanaman perkebunan lainnya, karena hasil panen mete setiap tahun terus menurun.

Leo sapaannya mengaku, setiap tahun curah hujan tidak menentu padahal petani di lahan kering dan tandus sangat menggantungkan pendapatan mereka dari hasil produksi jambu mete.

“Banyak petani pemilik lahan mete kian sulit hidupnya karena hasil produksinya terus menurun. Paling-paling hanya bisa menanam jagung dan padi saat musim hujan saja di sela-sela tanaman mete,” ungkapnya.

Leo menambahkan, hasil panen jagung dan padi ladang di lahan mete pun cenderung tidak optimal, karena banyak petani yang menanam mete dengan jarak antar-pohonnya terlalu dekat.

Lihat juga...