Pandemi Corona Budi Daya Ikan Cupang Menjamur

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Munculnya tren hobi ikan hias selama masa pandemi sejak beberapa waktu terakhir, ternyata mampu mendorong minat masyarakat untuk menggeluti usaha budi daya ikan hias. Salah satu jenis ikan hias yang banyak dibudidayakan saat ini adalah ikan cupang atau beta.

Selain memiliki pasar yang masih sangat potensial, ikan cupang banyak dipilih karena tergolong cukup mudah untuk dibudidayakan. Lebih dari itu, budi daya ikan cupang juga bisa dilakukan di mana saja, termasuk pekarangan rumah, karena tidak membutuhkan tempat yang luas seperti halnya budi daya ikan lainnya.

Salah satu ikan cupang jenis plakat nemo koi galaksi, Senin (16/11/2020). – Foto: Jatmika H Kusmargana

Salah satu kampung di kota Yogyakarta yang banyak memiliki pembudi daya ikan cupang adalah kampung Suryowijayan, Gedongkiwo, Mantrijeron, Yogyakarta. Sejak beberapa waktu terakhir, nampak bermunculan pembudi daya ikan cupang skala rumah tangga di kampung yang terletak di pinggir sungai Winongo ini.

Memanfaatkan pekarangan atau teras rumah yang cukup sempit warga membudidayakan ratusan ikan cupang menggunakan bak-bak bekas seperti ember, sterofoam, hingga botol minuman. Siapa sangka dari hasil budi daya tersebut mereka mampu memperoleh keuntungan yang cukup besar.

Salah seorang pembudi daya ikan cupang, Wikan Riptadi (33) mengaku, mulai membudidayakan ikan cupang sejak beberapa bulan terakhir. Ia mengaku, tertarik membudidayakan ikan cupang setelah melihat tingginya minat masyarakat memelihara ikan mungil warna-warni itu.

Memanfaatkan teras rumahnya yang cukup sempit, ia memelihara 3 indukan ikan cupang jenis plakat. Yakni Koi Multi, Koi Nemo Multi serta Nemo Koi Galaksi. Sekali kawin, satu indukan dikatakan bisa menghasilkan sekitar 200-250 ekor anakan. Bahkan bisa mencapai 400-450 ekor anakan jika sudah maksimal.

Dalam waktu sekitar 4-5 bulan, anakan ikan cupang sudah bisa dipanen. Biasanya dari 250 ekor anakan, yang bisa bertahan hingga dewasa dan siap panen bisa mencapai 150-200 ekor tergantung perawatan dan kualitas indukan. Satu ekor ikan cupang sendiri laku dijual mulai dari Rp50 ribu untuk kualitas biasa hingga Rp 200 ribu untuk ikan kualitas tinggi.

“Dua minggu setelah kawin, indukan ikan cupang sudah siap untuk dikawinkan lagi. Sehingga dari 3 indukan saja setiap dua minggu pembudi daya sudah bisa memiliki minimal 750 ekor anakan. Jadi memang potensinya cukup menguntungkan,” katanya, Senin (16/11/2020).

Salah satu tantangan terbesar budi daya ikan cupang adalah memperkecil risiko kematian anakan khususnya saat berumur kurang dari 2 bulan. Pasalnya, pada usia ini anakan ikan cupang rawan mengalami kematian yang diakibatkan oleh banyak faktor. Salah satunya adalah pemberian pakan yang berkualitas seperti misalnya kutu air dan cacing sutra.

“Karena itu sebaiknya pembudi daya harus bisa memproduksi pakan sendiri. Minimal kutu air. Sehingga tidak perlu membeli. Dan bisa menekan biaya produksi,” katanya.

Salah satu hal yang juga harus diperhatikan para pembudi daya ikan cupang adalah menjaga kualitas air. Baik itu dengan menjaga kualitas PH air ataupun kadar amoniak yang terkandung di dalamnya. Biasanya para pembudi daya  melakukannya dengan memberikan daun ketapang kering sebagai penjaga stabilnya PH, serta rutin mengganti air setiap 1 minggu sekali.

“Cupang ini termasuk ikan yang tahan banting. Untuk memeliharanya cukup memakai botol kecil. Tidak perlu aerator atau pun pompa air. Selain memang ikan cupang ini merupakan ikan teritorial sehingga jantannya harus dipisah agar tidak bertarung satu sama lain. Untuk menjaga kualitas warna perlu diberikan pakan hidup serta pelet yang kaya akan protein,” ungkapnya.

Lihat juga...