Pandemi Covid-19, Bunga Anggrek Tetap Menjadi Primadona

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

SEMARANG — Di masa pandemi, tanaman anggrek tetap menjadi primadona pecinta tanaman hias. Keindahan warna dan corak bunga yang dimiliki, menjadikan tanaman bernama latin orchidaceae tersebut tetap digemari.

Hal tersebut diakui Daniar, salah seorang penggemar tanaman anggrek. Dipaparkan, masing-masing jenis bunga tersebut memiliki ciri khas tersendiri.

“Kalau diperhatikan, bentuk kuntum bunga anggrek juga berbeda-beda, ada yang mirip kalajengking, kupu-kupu atau kantung. Selain itu, warna, corak dan ukuran kuntum juga bermacam-macam, jadi tidak bosan melihatnya,” paparnya, saat ditemui di kebun dinas Dinas Pertanian (Dispertan) Kota Semarang, Mijen, Semarang, Senin (16/11/2020).

Diakuinya, saat ini dirinya masih baru menekuni hobi tanaman hias, khususnya bunga anggrek. Untuk itu, masih ada banyak hal yang perlu dipelajari.

“Karakteristik masing-masing jenis anggrek berbeda, tentu perawatannya juga berbeda. Termasuk penggunaan media tanam, seperti arang kayu, pakis hingga kulit kayu. Ini menyesuaikan dengan jenis anggrek yang ditanam,” terangnya.

Hal senada juga disampaikan, pengelola laboratorium anggrek kebun dinas Dispertan Kota Semarang, Martini, menuturkan minat masyarakat untuk berbudidaya atau menanam anggrek selama pandemi covid-19 cukup tinggi. Hal tersebut terbukti dari peminat bibit yang membludak.

“Di kebun dinas ini, kita membudidayakan bermacam-macam tanaman termasuk anggrek. Sejauh ini, minat masyarakat tinggi, kita bahkan sampai kehabisan stok bibit anggrek. Termasuk bibit anggrek yang baru setinggi 2-3 centimeter, juga sudah diminati,” terangnya.

Dipaparkan, dalam budidaya anggrek, bisa dilakukan dengan dua cara yakni vegetatif berupa biji, dan generatif, salah satunya dengan cara persilangan atau transplanting.

“Dalam proses persilangan ini, diperlukan dua kuntum bunga anggrek. Berbeda warna boleh, asalkan sama jenis. Caranya dengan memasukkan benang sari atau bunga jantan, ke putik atau betina. Biasanya diambil bunga kedua atau keempat dari kuntum,” terangnya.

Selain itu, budidaya anggrek juga bisa dilakukan pada jenis anggrek Monopodial, yaitu jenis anggrek yang tumbuh pada satu batang saja, dan bunganya muncul dari ujung batang. Jenis anggrek ini bisa dibudidayakan dengan biji maupun stek batang, misalnya anggrek bulan.

Di satu sisi, Martini mengakui budidaya anggrek memang tidak mudah, namun bukan berarti tidak bisa dibudidayakan. “Jika ingin budidaya anggrek, memang harus telaten. Selain itu, pada saat penanaman pertama kali dari pembenihan atau persemaian ke media tanam, juga harus diperhatikan,” terangnya.

Dirinya mencontohkan, pemindahan bibit tanaman anggrek dari botol persemaian ke pot media tanam.

“Media tanam yang digunakan berupa akar kadaka, yakni akar tumbuhan sejenis paku-pakuan. Sebelum digunakan sebaiknya juga direbus dulu, untuk membunuh bakteri, atau gulma yang terkandung didalamnya. Selain itu ditambahkan fungisida, satu liter air diberi setengah sendok teh. Gunanya untuk membunuh jamur, pada media tanam,” ungkapnya.

Sementara, dalam perkembangannya, anggrek membutuhkan kecukupan nutrisi, air dan media tepat. Termasuk penggunaan pupuk, disesuaikan dengan fase pertumbuhan.

“Anggrek ini tanaman yang butuh kelembaban, jika menggunakan media tanam arang, intensitas penyiraman lebih tinggi, karena cepat kering. berbeda dengan kadaka, yang lebih bisa menyimpan air,” lanjutnya.

Seperti halnya tanaman lain, yang memiliki hama. Serangga, ulat, ngengat, kutu, dan siput menjadi beberapa contoh, jenis hama yang sering mengganggu tanaman anggrek. Hama-hama tersebut umumnya menyerang, atau memakan bagian tanaman seperti daun atau bunga. Selain itu, jamur pada tanaman anggrek, juga patut diwaspadai.

“Jika ada hama seperti ulat atau lainnya, bisanya cukup kita tangkap dan dibuang, atau menggunakan obat pestisida untuk mengatasi hama anggrek. Hal yang perlu diperhatikan, yakni dosis dan cara pemakaiannya,” tambahnya.

Lihat juga...