PAUD Restorasi Ubah Toilet jadi Area Perpustakaan Dinding

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Di sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Restorasi di Patisomba, Kelurahan Wuring, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) pendiri sekaligus pemiliknya selalu menelurkan ide-ide kreatif.

Selain menggratiskan biaya pendidikan, para guru merupakan relawan dan bekerja tanpa digaji, hanya dibayar dengan memberikan bibit sayuran untuk ditanam agar bisa memperoleh pendapatan.

“Saya selalu ingin membuat ide-ide yang kreatif dan memberikan hal positif termasuk dalam mendidik anak sejak usia dini,” ungkap Remigius Nong, pendiri PAUD Literasi, saat ditemui di sekolahnya di Patisomba, Kelurahan Wuring, Kabupaten Sikka, NTT, Kamis (5/11/2020).

Pendiri PAUD Restorasi di Kelurahan Wuring, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, NTT, Remigius Nong, saat ditemui di sekolah, Kamis (5/11/2020). Foto: Ebed de Rosary

Remi sapaannya, mengatakan, dirinya melihat selama ini toilet selalu menjadi tempat yang tidak menarik untuk didatangi orang kecuali ada keperluan membuang hajat.

Dirinya pun berpikir agar toilet bisa menjadi tempat yang nyaman bagi anak-anak, murid, orang tua, guru dan para tamu atau masyarakat sekitar yang berada di sekolah tersebut.

“Kami sudah mendesain toilet dan sedang dikerjakan dimana nantinya toilet ini diharapkan akan menjadi tempat orang menimba ilmu pengetahuan. Nanti di bagian dalam dan luar toilet akan ditulis dengan huruf, angka dan gambar hewan,” ungkapnya.

Selain itu kata Remi, bisa juga diselipi dengan kata-kata terkait pertanian karena sebagian besar orang tua murid merupakan para petani. Tulisan tersebut akan ditulis di dalam dan di luar toilet serta dibuat menarik agar orang mau membaca.

Ia sebutkan, sedang membuat tempat tongkrongan di luar ruangan toilet buat orang untuk nongkrong, dan beristirahat di tempat tersebut, sehingga tempat tersebut pun harus selalu bersih dan nyaman. Serta dipenuhi oleh tulisan terkait ilmu pengetahuan.

“Saya ingin memberi kesan kepada masyarakat bahwa toilet bukan hanya sebuah tempat yang jorok dan kotor. Tetapi juga bisa menjadi perpustakaan yang berbeda. Orang bicara perpustakaan selalu dikaitkan dengan tumpukan buku padahal toilet ini juga bisa jadi perpustakaan dinding,” ucapnya.

Remi mengaku, tertarik membuat toilet literasi karena dirinya prihatin dengan minat baca masyarakat di Kabupaten Sikka dimana budaya literasi generasi muda masih sangat minim dan memprihatinkan.

Guru PAUD Restorasi yang juga seorang relawan, Maria Wilhelmina Lenga, mengaku senang bisa mengajar di sekolah tersebut dan menimba berbagai ide kreatif serta inovatif dari pendiri sekolah tersebut.

Menurut Helmi sapaannya, ide yang ditelurkan Remi selaku pendiri sekolah sering dianggap gila. Tetapi memang sangat bermanfaat sekali bagi para murid, orang tua, maupun guru.

“Dinding sekolah kami juga dilukis dengan gambar-gambar binatang yang ada di sekitar kita. Ini juga memudahkan anak-anak untuk lebih mengenal hewan yang ada di sekitarnya,” ungkapnya.

Lihat juga...