Pelaku UMKM Perlu Antisipasi Perubahan Pola Belanja Masyarakat

Editor: Makmun Hidayat

SUKABUMI — Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (Dirjen PDSPKP), Artati Widiarti, mengingatkan, pelaku UMKM perlu mengantisipasi perubahan pola belanja masyarakat secara luas akibat Covid-19. 

Dikatakan sekarang penggunaan aplikasi belanja berbasis internet serta jasa pengiriman barang semakin populer di masyarakat sehingga menyebabkan perubahan pola konsumsi masyarakat, termasuk juga pola konsumsi ikan.

“Produk olahan ikan yang siap masak, siap makan, ikan kaleng, value added product seperti baso ikan, otak-otak menjadi semakin diminati oleh masyarakat,” kata Artati, dalam penguatan UMKM bertahan dan bangkit di tengah pandemi berdasar rilis yang diterima Cendana News, Selasa (17/11/2020).

UMKM harus melakukan inovasi sehingga produknya diterima oleh masyarakat. Inovasi tidak harus selalu menghasilkan produk baru namun dapat juga menggunakan produk lama dengan kelebihan yang baru seperti penambahan formula, kemasan, metode penyimpanan sehingga produk menjadi lebih awet dan mudah disajikan.

Untuk itu jelasnya dalam pengolahan ikan diperlukan penerapan cara yang baik dan prosedur standar sanitasi pada produk perikanan untuk memperoleh Sertifikat Kelayakan Pengolahan (SKP).

“Dengan demikian, produk perikanan yang dihasilkan harus memiliki kualitas tinggi, aman dan sehat dikonsumsi,  tertelusur, memiliki nilai yang tinggi, dan memiliki daya saing,” tutur Artati.

Artati menyebut bahwa industri pengolahan ikan skala Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berkontribusi besar terhadap perekonomian rakyat, baik pemilik maupun masyarakat yang ikut dipekerjakan.

Namun, di tengah situasi saat ini, UMKM mendapat tantangan besar karena banyak yang terpaksa berhenti beroperasi dan tidak berproduksi.

“Oleh karena itu, KKP berupaya membangkitkan kembali ekonomi UMKM sektor kelautan dan perikanan di masa pandemi Covid-19 dan new normal,” urainya saat menyerahkan bantuan di Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi.

Direktur Pengolahan dan Bina Mutu, Trisna Ningsih menyebutkan bahwa Sukabumi merupakan daerah strategis bagi industri pengolahan ikan khususnya skala usaha mikro dan kecil (UMK) yang ditunjukkan dengan jumlahnya yang mencapai 1.156 unit usaha.

Bahkan secara umum, Jawa Barat merupakan provinsi urutan ke-2 setelah Jawa Timur, dengan UPI skala UMKM mencapai  9.804 unit atau 15,71%  dari jumlah nasional diangka 62.389 unit.

Ketua Kelompok Flamboyan, Hajah Komalasari Produsen aneka olahan belut  menyebutkan bahwa selama pandemi Covid-19 ini justru penjualannya mengalami peningkatan.

“Sebelum Covid penjualan produk saya hanya mencapai 75 per pack/hari, tetapi selama Covid malah meningkat menjadi 100 pack/hari. Jadi sangat pas sekali bantuan ini  dengan kebutuhan saya untuk meningkatkan produksi,” terang Komalasari.

Lihat juga...