Pelaku Usaha Sektor Transportasi di Bakauheni, Masih Merana

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Murni terlihat menunggu setiap kapal yang akan sandar di pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan. Tiga kapal reguler dan satu kapal eksekutif yang sandar, menjadi peluang baginya mendapat penumpang tanpa kendaraan atau pejalan kaki. Setiap setengah jam kapal sandar, puluhan hingga ratusan penumpang turun. Namun, hanya sebagian dari mereka memakai jasa travel, bus dan angkutan pedesaan.

Murni menuturkan, penumpang asal Merak yang turun di pelabuhan Bakauheni menjadi sumber berkah bagi pengusaha transportasi. Namun situasi tersebut terjadi sebelum pandemi Covid-19 atau Corona asal Wuhan, Cina melanda hingga ke Indonesia. Sejumlah penumpang memilih dijemput keluarga memakai motor atau mobil pribadi. Imbasnya, jumlah penumpang berkurang.

Ivan Rizal, ketua DPC Khusus Organda Bakauheni, Lampung Selatan, saat ditemui di Bakauheni, Selasa (3/11/2020). -Foto: Henk Widi

Murni mengaku, ia dan sejumlah pelaku usaha transportasi merupakan mata rantai saling berkaitan. Pencari penumpang, sopir, kondektur hingga pemilik kendaraan travel, angkutan pedesaan dan bus berharap cuan. Namun, pandemi meruntuhkan semua harapan, bahkan kala libur panjang Maulid Nabi dan Cuti Bersama, penumpang sepi.

“Libur panjang Maulid Nabi dan cuti bersama sejak 28 Oktober hingga 1 November kemarin, jumlah penumpang memang terlihat banyak, tapi dari sisi pelaku usaha jasa transportasi definisi banyak jika mereka naik bus, travel dan angkutan pedesaan, jika dijemput keluarga tetap tak berdampak pada jasa transportasi,” terang Murni, saat ditemui Cendana News di terminal antarmoda Bakauheni, Selasa (3/11/2020).

Faktor kehati-hatian pelaku perjalanan, disebut Murni menjadi pemicu angkutan umum kurang diminati. Protokol kesehatan ketat yang diterapkan pemilik travel, angkutan pedesaan dan bus belum mampu mendongkrak jumlah penumpang. Trayek Bakaueheni-Bandar Lampung, Bakauheni-Lampung Timur tetap beroperasi, meski jumlah penumpang sepi.

Sejumlah bus, sebut Murni, terpaksa dikandangkan, dan sejumlah pemilik usaha travel mengurangi armada. Biaya operasional tak sebanding dengan pemasukan, menjadi alasan mengandangkan armada. Setoran oleh sopir ke pemilik usaha kerap selalu kurang, imbas kapasitas kendaraan tak penuh. Harapan akan wisatawan kala libur panjang, bahkan tak memberi kabar menggembirakan.

“Kami merana, karena paket perjalanan wisata yang kerap memakai jasa travel tidak ada order, mereka datang, tapi sudah membawa kendaraan pribadi,” terang Murni.

Menghindari kontak dengan orang tak dikenal, menjadi pemicu penurunan jumlah penumpang. Normalnya, dalam satu jam satu kendaraan travel bisa memuat delapan penumpang dan berangkat. Namun sejak pandemi, libur panjang butuh waktu selama tiga jam travel bisa penuh. Rebutan atau sistem berbagi penumpang sesuai trayek juga mempengaruhi muatan.

Sehari bisa mengantongi uang sekitar Rp2juta, selama pandemi Murni menyebut sopir travel hanya maksimal mendapat Rp1juta. Berkurangnya jumlah penumpang, juga dirasakan jasa ojek di area pelabuhan Bakauheni. Moda transportasi terkoneksi dengan kapal penyeberangan, mengalami masa-masa suram.

Senada dengan Murni dan pelaku usaha di terminal antarmoda Bakauheni, hal yang sama dialami operator bus. Bus Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) yang tergabung dalam Organisasi Angkutan Darat (Organda) Bakauheni.

Ivan Rizal, ketua DPC Organda khusus Bakauheni menyebut, bus eksekutif trayek Bakauheni-Rajabasa mengalami penurunan jumlah penumpang.

“Penumpang pengguna kapal eksekutif cukup banyak, tapi mereka memakai kendaraan pribadi, dijemput keluarga,” cetusnya.

Trayek bus eksekutif dengan tarif Rp60.000 via Jalan Tol Trans Sumatra (JTTS), sebutnya, disiapkan sekitar belasan armada. Namun selama pandemi, sistem jadwal yang diatur tetap tidak mendapat jumlah penumpang yang banyak.

Saat libur panjang, kapasitas bus berisi 30 hingga 35 penumpang kerap diberangkatkan hanya dengan muatan maksimal 20 orang.

Saat liburan, Ivan Rizal menyebut sebelumnya kerap bus disewa untuk kegiatan wisata. Namun imbas minat wisatawan berkurang saat pandemi Covid-19, mempengaruhi omzet. Mendapat hasil lebih dari Rp2juta dalam dua trip pada kondisi normal, selama pandemi hasil ratusan ribu rupiah sudah cukup menjanjikan. Biaya operasional bahan bakar, sopir kerap masih kurang imbas penumpang sepi.

Penumpang kapal di terminal eksekutif asal Merak, sebut Ivan Rizal, kerap tidak otomatis memakai bus eksekutif. Keberadaan shuttle bus ke terminal antarmoda, membuat sebagian memilih ojek jemputan. Ia mengaku tidak bisa memprediksi kapan situasi pandemi akan berakhir. Bberbagai promosi wisata saat new normal gencar dilakukan, belum bisa mendongkrak sektor jasa transportasi.

Lihat juga...