Pelaku Wisata Sesalkan Pembangunan di Obwis Tanjung Kajuwulu

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Pemerintah Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, melaksanakan berbagai kegiatan pembangunan di destinasi wisata Tanjung Kajuwulu, Desa Kolisia, Kecamatan Magepanda. Namun, para pelaku wisata setempat menyesalkan pembangunan itu karena dianggap tak memanfaatkan kearifan lokal.

Destinasi wisata berupa pemandangan pantai dari tebing di dekat pantai dan puncak bukit yang terdapat Salib tersebut, bahkan mengundang protes dari pelaku wisata, karena mempergunakan konsep modern.

“Kami menyayangkan pembangunan yang dilakukan di destinasi wisata Tanjung Kajuwulu, karena mempergunakan bangunan dari semen,” kata Yulius Yoman, salah satu pemandu wisata yang menetap di Kecamatan Magepanda, Minggu (15/11/2020).

Yulius mengatakan, pemerintah membangun lopo atau tempat beristirahat menggunakan semen, padahal seharusnya pembangunannya bisa dilakukan dengan mempergunakan bahan-bahan alam.

Dia mencontohkan, seharusnya tiangnya menggunakan bambu atau kayu kelapa, sementara atapnya bisa menggunakan daun kelapa atau ilalang serta dinding dari anyaman bambu.

Salah seorang pemandu wisata yang selalu mengantar wisatawan asing, Yulius Yoman, saat ditemui di Kecamatan Magepanda, Minggu (15/11/2020). -Foto: Ebed de Rosary

“Saat ini, wisatawan asing lebih senang bersantai dan menginap di bangunan yang dibangun mempergunakan bahan alam. Selain membuat tempat wisata lebih menarik, kita juga bisa mempergunakan kekayaan alam yang dimiliki,” ujarnya.

Yulius menyesalkan pembangunan menara dan bangunan lainnya di sepanjang tangga menuju puncak Bukit Kajuwulu yang dibangun pemerintah, padahal seharusnya kawasan ini ditata dengan menanam pepohonan.

Penghijauan, kata dia, seharusnya digalakkan dan pemerintah harus mengawasi dan menjaga agar perbukitan di Tanjung Kajuwulu, agar jangan terbakar setiap tahun, sehingga membuat rumput dan pepohonan mati.

“Wisatawan asing saat ini sedang menyukai destinasi wisata yang mengusung konsep alam dan ekowosisata. Kalau bangunan beton di negara mereka malah lebih canggih, sehingga mereka ingin melihat yang tradisional,” ucapnya.

Pelaku wisata lainnya, Sonya da Gama, pun menyesalkan adanya pembangunan di destinasi wisata Tanjung Kajuwulu yang mengusung konsep modern dan terkesan merusak pemandangan.

Sonya meminta seharusnya pemerintah sebelum melakukan penataan destinasi wisata bisa meminta masukan dari pelaku-pelaku wisata, dan harus mempertahankan konsep alam.

“Harusnya pemerintah sebelum menata sebuah destinasi wisata bisa meminta masukan dari pelaku wisata. Ini penting karena pelaku wisata selalu berurusan dengan wisatawan, dan mengetahui keinginan wisatawan, terutama wisatawan asing,” ujarnya.

Lihat juga...