Pelestarian Terumbu Karang Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat Pesisir

Editor: Koko Triarko 

Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa saat menjadi narasumber pada webinar bertajuk Pengelolaan dan Pelestarian Terumbu Karang Nasional di Jakarta, (18/11/2020). -Humas Bappenas

JAKARTA – Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyebut, sekitar 596 jenis terumbu karang atau 69 persen dari total terumbu karang dunia berada di laut Indonesia. Bila terumbu karang (coral reef) ini dikelola dan dilestarikan dengan baik, maka potensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

“Bappenas telah meluncurkan Coral Reef Rehabilitation and Management Program-Coral Triangle Initiative (COREMAP-CTI), yang dilaksanakan Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) di sejumlah lokasi di Indonesia, salah satunya Papua Barat, untuk melindungi dan mengelola pemanfaatan terumbu karang serta ekosistem terkait, termasuk kawasan konservasi perairan, dengan tujuan akhir meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir,” ujar Suharso dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu (18/11/2020).

Suharso menegaskan, bahwa pemerintah berkomitmen untuk memperkuat rehabilitasi dan pengelolaan terumbu karang yang berkelanjutan, termasuk upaya perlindungan ekosistem pesisir dan laut.

“Tidak ada trade off antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Pelestarian sumber daya pesisir, dalam hal ini terumbu karang, menjadi salah satu contoh nyata upaya menjaga lingkungan dapat sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat dan nasional,” tandasnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam Kementerian Bappenas, Arifin Rudiyanto, menyebutkan, bahwa provinsi Papua Barat merupakan salah satu lokasi pelaksanaan COREMAP-CTI, yang meliputi tiga tempat prioritas, yakni Suaka Alam Perairan Kepulauan Raja Ampat, Suaka Alam Perairan Kepulauan Waigeo sebelah barat, dan Kawasan Konservasi Perairan Daerah Raja Ampat.

“Target yang ingin dicapai melalui COREMAP-CTI adalah penguatan kapasitas kelembagaan pengelolaan sumber daya kelautan, terutama terumbu karang, dengan basis ilmiah dan didukung langsung oleh kolaborasi berbagai pihak, dari pemerintah hingga masyarakat setempat,” ungkap Arifin.

“COREMAP-CTI juga menjadi pengungkit ekonomi pascapandemi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, melalui pelestarian terumbu karang dan ekosistem pesisir berkelanjutan, sekaligus strategi pengelolaan kemaritiman dan kelautan secara optimal,” sambung Arifin.

Sejak 2019, kata Arifin, pelaksanaan program COREMAP-CTI didukung pendanaan hibah dari Global Environment Facility (GEF) yang disalurkan melalui World Bank dan Asian Development Bank.

“Ada pun dukungan COREMAP-CTI World Bank sebesar US$ 6,2 juta dengan durasi hibah mulai 19 Juni 2019 hingga 30 Juni 2022 berlokasi di Laut Sawu, Nusa Tenggara Timur dan Raja Ampat, Papua Barat. Sedangkan dukungan COREMAP-CTI Asian Development Bank sebesar US$ 5,2 juta dengan durasi hibah mulai 4 Maret 2020 hingga 31 Desember 2022 berlokasi di Gili Matra dan Gili Balu, Nusa Tenggara Barat, serta Nusa Penida, Bali,” pungkas Arifin.

Lihat juga...