Pemanga Temia Nutai, Ritual Adat Warga Nelayan di Sikka

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Hampir semua masyarakat yang mendiami pulau-pulau di Taman Wisata Alam Laut (TWAL) Gugus Pulau Teluk Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, menyandarkan nasibnya sebagai nelayan. Mereka sebagian besar merupakan keturunan dari Buton, Bugis, Bone dan wilayah pulau Sulawesi lainnya yang sejak turun temurun  mendiami berbagai pulau tersebut.

“Sebagai nelayan, kami meyakini laut juga dihuni oleh makluk dan penjaga laut, sehingga harus diberi makan atau sesajen, agar selalu mendapat berkat,” kata Lukman, sesepuh warga Buton asal Pulau Pemana, Kabupaten Sikka, saat ditemui Cendana News, di Maumere, Minggu (8/11/2020).

Menurut Lukman, sejak zaman dahulu leluhur masyarakat keturunan Buton yang mendiami Pulau Pemana dan Kojadoi,  setiap dua tahun sekali selalu menggelar ritual adat Pemanga Temia Nutai.

Lukman, sesepuh warga Pulau Pemana, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, NTT, saat ditemui, Minggu (8/11/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Ia menyebutkan, sebelum memasuki hari puncak ritual, tetua adat di Pulau Pemana dan Kojadoi menyiapkan sesajen berupa makanan yang diletakkan di empat sudut perkampungan yang mereka tempati.

“Ritual ini dilakukan untuk meminta berkah kepada leluhur dan penjaga kampung, guna memohon agar warga kampung selalu mendapat berkah dan dilindungi dari segala macam wabah penyakit,” ungkapnya.

Ditambahkan Lukman, menjelang hari puncak ritual, semua perahu nelayan didandani dengan bendera, umbul-umbul dan aneka kain berwarna-warni dan selama satu hari tersebut para nelayan dilarang melaut.

Dirinya mengatakan, sejak pagi semua warga masyarakat berkumpul di Pulau Kambing, pulau kecil berpasir putih yang berada persis di sebelah timur Pulau Pemana, guna mengikuti ritual.

“Segala makanan lokal pun disiapkan setiap keluarga untuk disantap bersama segenap warga dan masyarakat dari luar wilayah yang hadir menyaksikan ritual ini. Ini sebuah bentuk kebersamaan dan kegembiraan,” ucapnya

H Boy, tokoh nelayan Pemana menyebutkan, kegiatan ritual ini merupakan warisan para leluhur mereka untuk mengikat para nelayan dalam menjaga laut, dengan tidak menangkap ikan dengan cara merusak ekosistem laut.

Ia mengatakan, sebagai masyarakat nelayan mereka diikat dengan ritual adat, yang di dalamnya terdapat pantangan dan larangan bagi para nelayan,  bila dilanggar akan mendatangkan malapetaka bagi si nelayan tersebut.

“Ritual adat ini sempat hilang, namun dihidupkan kembali pada 2015, dan kini selalu dilaksanakan dua tahun sekali dan terakhir terjadi pada 2019,” pungkasnya.

Lihat juga...