Pembelajaran Daring Berdampak Hilangnya Kesempatan Belajar Bersosialisasi

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

YOGYAKARTA — Pembelajaran secara online atau daring dinilai berdampak pada hilangnya salah satu proses pendidikan yang mestinya dirasakan oleh anak didik. Proses yang dimaksud adalah untuk belajar bersosialisasi dengan siswa lain.

Di tingkat pendidikan anak usia dini seperti KB, PAUD atau TK proses ini dinilai cukup penting dalam fase pertumbuhan dan perkembangan anak yang membentuk karakter di masa mendatang. Dimana dengan bersosialisasi anak akan bisa belajar untuk saling berbaur dan menempatkan diri, berempati, dan menghormati perbedaan satu sama lain.

Karena itu lah, proses pembelajaran semacam itu dinilai tetap harus diberikan pada anak, meski masih dilakukan secara daring atau online selama masa pandemi. Salah satunya dengan penyampaian teori-teori terkait pendidikan karakter semacam itu lewat berbagai media pembelajaran, baik gambar hingga film animasi.

“Memang tantangan pembelajaran secara online atau BDR ini lebih besar pada anak-anak usia dini. Kuncinya tetap saja pada orangtua masing-masing. Karena orangtua lah yang setiap hari berinteraksi dengan anak ketika berada di rumah,” ungkap Kepala Sekolah Taman Kanak-kanak (TK) Negri Pembina Wates Kulonprogo Yogyakarta, RR Istikomah Aguswati, Kamis (26/11/2020).

TK Pembina Wates Kulonprogo sendiri dikatakan selama ini menerapkan sistem pembelajaran online bagi para siswa dengan melibatkan orang tua sebagai bagian penting. Dimana materi pelajaran diberikan oleh guru pada orang tua, untuk selanjutnya disampaikan ke anak. Setelah materi disampaikan, maka orang tua akan melaporkan hasil pembelajaran kepada guru kembali.

“Untuk murid TK, memang berbeda dengan SD, SMP atau SMA. Orangtua harus melihat dulu kondisi anak sebelum menyampaikan materi pelajaran. Jika anak belum mood, ya ditunggu dulu sampai dia mood. Sehingga orang tua harus benar-benar sabar, dan tidak mudah emosi,” katanya.

Selain itu setiap minggu setiap orang tua juga diminta datang atau berangkat ke sekolah dengan menerapkan protokol kesehatan, untuk mengambil bahan ajar yang telah disiapkan guru bagi para siswa. Bahan ajar inilah yang nantinya digunakan orang tua untuk menyampaikan materi pembelajaran sehingga dapat dimengerti si anak.

“Bahan ajar ini bisa berupa gambar, kertas lipat, alat peraga edukasi. Tidak hanya itu saja, para orang tua juga kita bekali dengan tutorial atau panduan bagaimana menyampaikan materi pelajaran, sehingga bisa dimengerti olah setiap murid,” katanya.

Sejauh ini, dikatakan Istikomah sistem pembelajaran secara online bagi para siswa TK Negeri Pembina Wates tidak memiliki kendala berarti. Kendala lebih kepada hal yang bersifat kasuistik seperti ada orang tua yang harus bekerja, sehingga tidak bisa mendampingi anak. Ataupun adanya siswa berkebutuhan khusus yang memang perlu perlakuan khusus pula.

“Kebetulan di tempat kami ada tujuh orang siswa ABK. Sehingga memang perlu penanganan secara khusus pula. Pihak sekolah sendiri berencana memberikan layanan kunjungan ke rumah untuk membantu para siswa ABK ini. Sehingga mereka tetap bisa menerima materi pelajaran sebagimana mestinya,” katanya.

Lihat juga...