Pemerintah Berupaya Genjot Daya Saing Sektor Pertanian dan Perkebunan

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Meski memiliki sumber daya alam melimpah, namun daya saing sektor pertanian dan perkebunan Indonesia masih sangat minim di level global. Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto menyebut, setidaknya hanya ada lima produk perkebunan nasional yang memiliki daya saing tinggi, yakni, kelapa sawit, karet, kakao, kopi, dan kelapa.

“Kita akan terus berupaya mendongkrak daya saing ini melalui pengembangan berkelanjutan, pemerintah berusaha meningkatkan skala usaha melalui integrasi area produksi dan integrasi hulu hilir. Tentu dengan memasukkan unsur teknologi, modal, dan akses distribusi sehingga bisa mendekatkan dari petani ke pasar,” ujar Airlangga dalam webinar bertajuk Komitmen dan Inovasi Membangun Pangan dan Gizi Bangsa Secara Berkelanjutan, Senin (9/11/2020).

Selain itu, Airlangga mengatakan, pemerintah akan mulai memetakan lahan dan potensi produk tiap wilayah (One Village One Product), pengembangan kemitraan hulu-hilir, akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR), penerapan teknologi, serta kemudahan pembentukan koperasi maupun Perseroan Terbatas (PT).

“Kita sudah punya contoh model kemitraan pengembangan kawasan hortikultura berorientasi ekspor, yang dilakukan di beberapa lokasi antara lain di Kabupaten Bener Meriah, Kabupaten Tanggamus, dan Kabupaten Jembrana. Ini akan kita replikasi di wilayah lain,” tandas Airlangga.

Lebih lanjut, berkaitan dengan penyaluran KUR di sektor pertanian, Airlangga mengungkapkan, bahwa total hingga September 2020 telah mencapai Rp38,15 triliun dengan didominasi oleh Sub Sektor Pertanian Padi sebesar Rp7,9 triliun, diikuti oleh Sub Sektor Perkebunan Kelapa Sawit sebesar Rp7,0 triliun, dan Sub Sektor Pertanian Hortikultura dan Lainnya sebesar Rp4,7 triliun.

“Program KUR ini merupakan salah satu strategi andalan untuk mendongkrak pertumbuhan produksi sektor pertanian. Ini akan terus kami dorong,” tukasnya.

Terakhir, Airlangga memaparkan tentang pemberian izin akses lahan hutan melalui Program Perhutanan Sosial. Dengan adanya program perhutanan sosial ini, maka kehidupan petani diharapkan menjadi lebih baik karena pendapatan mereka bertambah dari hasil pemanfataan hutan.

“Intinya yang akan jadi strategi aksi pemerintah adalah membangunan logistik benih; meningkatkaa produksi dan optimasi lahan; meningkakan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan kelembagaan ekonomi pekebun; menjalankan sistem tracebility dan sustainability; meningkatkan akses pembiayaan perkebunan; digitalisasi dan e-commerce; serta transformasi ekspor,” papar Airlangga.

Sebagai informasi tambahan, ekspor sektor pertanian mengalami kenaikan signifikan di masa pandemi Covid-19. Pada bulan September 2020 kontribusi sektor pertanian sebesar 3,0 persen dari total ekspor Indonesia, dengan nilai ekspor mencapai 0,4 pmiliar USD. Ekspor sektor pertanian di bulan September 2020 naik 16,2 persen (yoy) dan 20,8 persen (mom).

Lihat juga...