Pemerintah Harus Percepat Capaian Target Energi Baru Terbarukan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Pengamat Ekonomi Energi dari Universitas Indonesia (UI), Berly Martawardaya, pada diskusi virtual di Jakarta, Rabu (18/11/2020). Foto: Sri Sugiarti.

JAKARTA — Pengamat Ekonomi Energi dari Universitas Indonesia (UI), Berly Martawardaya mengatakan, pemerintah harus mempercepat capaian target bauran energi baru terbarukan (EBT).

Pemerintah menargetkan komposisi pemanfaatan EBT dalam lima tahun mendatang mencapai 23 persen. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi sumber energi baru dengan jumlah yang besar, yakni mencapai 400 gigawatt.

“Dari jumlah itu, baru sekitar 10 gigawatt atau 2,5 persen yang dimanfaatkan. Target Kementerian ESDM untuk EBT baru tercapai 9 persen,” ujar Berly, pada diskusi virtual di Jakarta, Rabu (18/11/2020).

Padahal menurutnya, realisasi pemanfaatan EBT bisa menekan ketergantungan negara terhadap impor energi.

Dia pun menyarankan agar pemerintah bisa mempercepat bauran EBT dalam tiga tahun, dengan pemanfaatan energi hijau lebih dioptimalkan untuk sumber energi yang berasal dari surya dan panas bumi.

Dalam hal ini, menurutnya, Indonesia dapat meniru negara Vietnam, Thailand, dan Filipina. Vietnam dalam satu tahun bisa meningkatkan kapasitas energi terbarukan menjadi 20 kali lipat.

Sedangkan Thailand dalam dua tahun telah mampu meningkatkan komposisi energi terbarukan menjadi 4 kali lipat.

Dengan percepatan EBT tersebut dalam kurun waktu 2-3 tahun, maka dipastikan biaya energi yang dikeluarkan akan lebih murah daripada batu bara maupun diesel.

“Ya, paling tidak proporsi batu bara di Asean bisa dikurangi. Apalagi Indonesia negara kepulauan,” tukas Berly Martawardana yang menjabat Direktur Riset Institut for Development of Economics and Finance (INDEF).

Koordinator Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Asia Tenggara, Tata Mustasya, mengatakan, kinerja Indonesia untuk perencanaan dan transisi menuju energi terbarukan berada di peringkat terbawah.Sedangkan peringkat pertamanya adalah Vietnam.

“Vietnam, transisi energi terbarukan meningkat drastis, melipatgandakan kapasitas pembangkit tenaga surya dari 134 megawatt pada 2018 menjadi 5.500 megawatt pada tahun 2019,” ujarnya.

Lihat juga...