Pemerintah Perlu Perbaiki Kebijakan Sektor Pertanian dan Peternakan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Ahmad Tauhid, menyambut baik tumbuhnya sektor pertanian nasional di triwulan III-2020 mencapai angka 2,15 persen.

“Saya lihat sektor pertanian memang tumbuh positif di triwulan III 2020 ini di tengah sektor lainnya menurun seperti sektor perternakan dan perikanan,” ujar Tauhid kepada Cendana News saat dihubungi, Senin (9/11/2020).

Menurutnya, pencapaian pertumbuhan sektor pertanian secara tahunan atau year on year (yoy) maupun secara kuartalan (q to q) memang selalu didukung oleh banyaknya permintaan kebutuhan terhadap komoditas tanaman hortikultura dan perkebunan, baik itu untuk pasar dalam negeri maupun ekspor.

“Sektor pertanian masih tumbuh positif, seperti tanaman hortikultura dan tanaman pangan, permintaannya terhadap kebutuhan komoditas ini banyak, tetap bagus baik di pasar dalam negeri maupun ekspor,” ungkapnya.

Namun demikian meskipun tumbuh positif, Tauhid mengingatkan pemerintah selalu waspada di tengah kondisi pandemi Covid-19 yang masih melanda, tentu dibutuhkan kerja keras dengan memperbaiki kebijakan.

Kerja keras itu diperlukan menurutnya, karena melihat pertumbuhan sektor pertanian yoy pada triwulan II 2020 berada di angka 2,19 persen, kemudian di triwulan III 2020 mencapai 2,15 persen.

“Perlu waspada karena kondisinya masih seperti ini, nanti sampai triwulan IV perkiraan saya memang tidak akan bergerak tinggi lagi tapi tetap positif,” ujarnya.

Hal ini terutama tambah dia, kontribusi dari subsektor tanaman pangan, yang juga tumbuh tetap positif di tengah panen raya. Selain itu, tanaman padi juga mengalami permintaan dikarenakan melemahnya daya beli.

Meskipun sektor pertanian tumbuh positif, seharusnya menurutnya, diimbangi dengan pertumbuhan sektor peternakan dan pertanian.

“Sektor peternakan dan perikanan masih melemah belum tumbuh positif, ini karena banyak disebabkan oleh faktor daya beli dan over supply,” imbuhnya.

Sehingga menurutnya, harus ada kebijakan dari pemerintah untuk segera membenahi dan memperbaiki kondisi kontraksi dan subsektor peternakan dan perikanan yang turun akibat melemahnya daya beli.

Untuk meningkatkan ketiga sektor tersebut ke depan, Tauhid meminta pemerintah bekerja keras dengan semua kebijakannya.

Pertama sebut dia, sektor pertanian harus ada upaya kongkret meningkatkan ekstensifikasi lahan-lahan pertanian, dan kemudian identifikasi juga perlu dilakukan.

Karena menurutnya, pada beberapa kasus sekarang ini sangat tergantung dengan mesin yang akhirnya ketika musim panen raya harga akan meningkat, berdampak juga harga panen jatuh dan daya beli turun.

“Nah ini yang kita waspadai. Saya kira perlu dilakukan, misalnya saja menjaga agar daerah lahan produktif itu dijaga tidak berkurang. Lahan di Jawa tidak terkonversi menjadi perumahan atau kawasan industri. Upaya ini yang harus dilakukan,” tukasnya.

Kedua lanjut dia, tentu saja sektor pertanian butuh disubsidi, tetapi yang lebih penting adalah penerapan teknologi tepat guna agar penggunaan input bahan baku untuk pertanian tidak berlebihan.

Karena kalau dilihat sektor pertanian di Indonesia masih kurang efisien dalam penggunaan bahan baku hingga berlebihan, yang akhirnya berdampak pada produktivitas.”Ini yang saya kira harus diperbaiki,” ujarnya.

Yang terakhir, yakni soal tata niaga yang harus diperbaiki terutama berkaitan dengan rantai nilai berbagai sektor, terutama tanaman pangan, peternakan dan perikanan.

“Menurut saya terutama di peternakan yang masih relatif panjang industrinya. Ini yang membuat tidak efisien dan katakanlah over supply sehingga harga akhirnya hancur, peternak banyak yang rugi,” jelasnya.

Kondisi tersebut menjadi masalah bagi ketiga sektor tersebut, apalagi ketika dalam tata niaga tidak diperbaiki.

“Jadi agendanya adalah perbaiki tata niaga dan efisiensinya,” tutup Tauhid.

Lihat juga...