Penanam Ganja di Rumah Ajukan Gugatan UU Narkotika

Foto Dok - Polisi berjaga saat penggerebekan tanaman ganja di atap sebuah rumah di Karang Tengah, Kota Tangerang, Banten, Senin (31/8/2020). Jajaran Polrestro Tangerang Kota berhasil mengamankan tiga tersangka dengan barang bukti 47 tanaman pohon ganja yang ditanam menggunakan "polybag" di atap sebuah rumah. -Ant

JAKARTA – Penanam ganja di rumah, bernama Ardian Aldiano, mengajukan Pengujian Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, mempersoalkan frasa pohon dalam penjelasan undang-undang tersebut.

Kuasa hukum pemohon, Singgih Tomi Gumilang, dalam sidang perdana secara daring di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Senin, mendalilkan frasa pohon dalam Penjelasan Pasal 111 dan Penjelasan Pasal 114 tidak dimaknai, sehingga dapat menimbulkan disparitas hukum.

“Tidak dimaknainya frasa pohon dalam Penjelasan Pasal 111 dan Pasal 114, dikhawatirkan akan menimbulkan banyaknya disparitas hukum dalam pemeriksaan-pemeriksaan persidangan yang lain-lain selain pemohon,” tutur Singgih Tomi Gumilang.

Ia menuturkan, pemohon kini sedang dalam pemeriksaan di Pengadilan Negeri Surabaya sebagai terdakwa atas tindakannya menanam 27 tanaman ganja.

Menurut dia, terdapat perbedaan yang mencolok dari tanaman ganja yang hanya memiliki tinggi 3-40 cm dengan definisi pohon sebagai tumbuhan yang mempunyai akar, batang dan tajuk yang jelas dengan tinggi minimum 5 meter.

Untuk itu, pemohon melalui kuasa hukumnya meminta kepada Mahkamah Konstitusi, agar menyatakan Penjelasan Pasal 111 dan Penjelasan Pasal 114 Undang-Undang Narkotika bertentangan dengan UUD 1945.

Selanjutnya, kuasa hukum pemohon mengusulkan agar pohon dalam undang-undang tersebut dimaknai sebagai tumbuhan yang mempunyai akar, batang dan tajuk yang jelas dengan tinggi minimum 5 meter.

Menanggapi permohonan itu, Hakim Konstitusi Enny Nurbaningsih mempertanyakan frasa yang dimintakan untuk didefinisikan, lantaran Penjelasan Pasal 111 dan Penjelasan Pasal 114 Undang-Undang Narkotika hanya berisi “cukup jelas”.

“Yang didefinisikan itu apanya? Tidak ada kata apa pun di dalam ‘cukup jelas’ itu, selain ‘cukup jelas’. Anda minta definisinya ada definisi pohon, kan tidak ada di situ kata pohon, yang ada kan ‘cukup jelas’ saja,” ujar Enny Nurbaningsih.

Untuk itu, pemohon diberi kesempatan untuk memperbaiki permohonan hingga dua pekan kemudian. (Ant)

Lihat juga...