Pengembangan Layanan Kesehatan Primer Indonesia Dilakukan di Era Soeharto

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Pentingnya layanan kesehatan primer sudah menjadi visi dua presiden Indonesia. Digagas oleh Presiden Soekarno dan berkembang pesat di masa Presiden Soeharto, menjadi bukti sebenarnya Indonesia sudah menata langkah menuju sistem kesehatan yang kuat melalui pengembangan layanan kesehatan primer.

Pusat layanan kesehatan primer adalah poros utama dalam membangun sistem kesehatan masyarakat yang kuat. Banyaknya negara yang terbukti mampu menyelesaikan masalah pandemi COVID-19 dengan baik, menjadi bukti pentingnya layanan kesehatan primer ini.

Hal ini ditegaskan oleh WHO yang menyatakan kekuatan sistem kesehatan suatu negara hanya bisa diwujudkan dengan adanya layanan kesehatan primer yang kuat.

“WHO baru saja menyatakan bahwa penyelesaian pandemi bukanlah dari global ke tingkat terkecil suatu negara. Tapi dari kesiapan pelayanan kesehatan di wilayah terkecil suatu negara, naik ke tingkat nasional baru ke global. Maksudnya, kesiapan negara itu harus dari layanan primernya,” kata Senior Advisor on Gender and Youth, World Health Organization (WHO) Diah Saminarsih, dalam acara online, Jumat (6/11/2020).

Senior Advisor on Gender and Youth, World Health Organization (WHO), Diah Saminarsih, saat acara online terkait kesehatan masyarakat, Jumat (6/11/2020) – Foto: Ranny Supusepa

Di Indonesia sendiri, layanan kesehatan primer ini dikenal dengan nama Puskesmas, yang sudah digagas sejak zaman Presiden Soekarno dan berkembang pesat di masa kepemimpinan Presiden Soeharto. Bisa dikatakan, puskesmas sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Terutama bagi masyarakat yang tidak tinggal di kota besar.

Mengutip salah satu tulisan di Soeharto.co, Jeremy Shiffman dalam artikelnya Generating Political Priority for Maternal Mortality Reduction in 5 Developing Countries menyatakan, Soeharto memimpin langsung kampanye kebijakan, menambah anggaran untuk mengurangi angka kematian ibu dan anak, serta memobilisasi pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota untuk memperhatikan hal yang sama.

Selama masa kepemimpinannya ini, puskesmas menjadi ujung tombak sekaligus implementasi program kesehatan. Layanan kesehatan yang tersebar hingga desa terpencil terbukti berhasil menekan angka kematian bayi, mengendalikan penyebaran penyakit menular dan memperbaiki kondisi kesehatan masyarakat.

Tercatat, melalui program Inpres Sarana Kesehatan telah dibangun 6.984 unit Puskesmas, 20.477 unit Puskesmas Pembantu, dan 3.794 unit Rumah Dinas untuk dokter di daerah terpencil pun berdiri. Dan untuk memenuhi kebutuhan tenaga medis, diupayakan penempatan dokter di daerah-daerah tertinggal yang dikenal dengan program dokter Inpres Desa Tertinggal (IDT).

Pada 1994-1995 telah ditempatkan lebih dari 3.000 dokter PTT dan 800 dokter gigi PTT. Jumlah tersebut terus meningkat untuk tahun-tahun berikutnya.

Tapi, sayangnya, pasca pemerintahan Soeharto, pengembangan puskesmas ini seperti terhenti, akibat adanya desentralisasi. Akibatnya pula, saat terjadi pandemi seperti saat ini, layanan primer yang seharusnya menjadi titik utama penanganan tidak mampu berbuat banyak.

Lihat juga...