Penjual Ayam di Pinggir Jalan Merebak di Kota Purwokerto

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

PURWOKERTO — Sejak pandemi, penjualan ayam potong di tepi-tepi jalan di Kota Purwokerto merebak. Hal tersebut sebagai upaya para penjual untuk jemput bola, mengingat ada kecenderungan sebagian masyarakat yang enggan untuk pergi ke pasar tradisional.

Para penjual ayam potong banyak terlihat di sepanjang Jalan Ringin Tirto, kemudian Jalan Brigjen Encung dan beberapa ruas jalan lainnya di Kota Purwokerto. Ada yang berjualan hanya pagi hingga siang hari, namun ada juga yang sampai menjelang malam.

“Lebih cepat laku jualan di pinggir jalan seperti ini, karena pembeli lebih mudah mampir. Kalau di pasar tradisional harus parkir kendaraan dulu, kemudian berjalan ke dalam pasar, belum lagi banyak kerumunan orang, jadi banyak yang masih enggan berbelanja di dalam pasar,” kata salah satu penjual ayam potong, Hida, Selasa (10/11/2020).

Strategi jemput bola ini tampaknya cukup berhasil. Terbukti usaha penjualan ayam potong Hida yang awalnya hanya satu meja, sekarang sudah berderet menjadi tiga meja. Bahkan, ia yang awalnya berjualan di depan ruko, sekarang ruko tersebut sudah disewa untuk menyimpan stok ayam potongnya.

Terkait ramainya pembeli tersebut, Hida bertutur, ia melayani semua jenis pembelian ayam. Sehingga jika ada yang ingin membeli ayam hanya bagian paha, atau dada atau kepala saja, selalu dilayani.

Selain itu, Hida juga membuka pesanan melalui whatsaap, para pembeli yang datang dibagikan kartu berisi nomor handphone untuk pemesanan. Sehingga pembeli bisa memesan terlebih dahulu, kemudian baru mengambil ayam pada jam yang sudah ditentukan. Hal ini untuk mempercepat pelayanan serta meminimalkan antrian pembeli.

“Kita kan jualannya di tepi jalan, jadi kalau pembeli terlalu ramai menyebabkan jalan macet, sehingga kita buka pemesanan melalui whatsapp,” tuturnya.

Penjual ayam lainnya di Jalan Brigjen Encung, Kecamatan Purwokerto Utara, Bu Nardi mengatakan, ia belum lama memulai usaha penjualan ayam di pinggir jalan, namun pelanggannya sudah cukup banyak. Dalam satu hari, ia bisa menjual hingga 10-15 ekor ayam.

“Biasanya kalau di kios ayam ramai pembeli dan antrian cukup panjang, banyak yang pindah membeli di tempat saya,” tuturnya.

Bu Nardi mengaku, awalnya ia berjualan di Pasar Manis bagian dalam, namun karena sepi pembeli dan ia harus membayar retribusi pasar setiap harinya, akhirnya ia memilih untuk keluar dari pasar. Gayung bersambut, masyarakat sekitar yang melintas di jalan tersebut akhirnya menjadi pelanggannya.

“Lebih ramai jualan di pinggir jalan, lebih cepat habis dan tidak perlu membayar retribusi,” katanya.

Lihat juga...