Penjual Bunga di Maumere Mulai Banyak Bermunculan

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Beberapa tahun terakhir di Kota Maumere, Ibukota Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah mulai banyak bermunculan penjual bunga hidup lengkap dengan pot, baik di pasar tradisional maupun di rumah.

Usaha ini pun mulai menggeliat 3 tahun terakhir karena sudah mulai banyak masyarakat yang membeli bunga untuk ditaruh di halaman rumah maupun perkantoran pemerintah dan swasta serta sekolah-sekolah.

“Saya mulai menjual  berbagai jenis bunga hidup di dalam pot sejak tahun 2017,” kata Wilhelmina Wilda, penjual bunga di Pasar Alok, saat ditemui Cendana News di tempat usahanya, Selasa (3/11/2020).

Isabela sapaannya mengaku memiliki hobi menanam sehingga saat dipercayakan menjaga sarana toilet umum di Pasar Alok tahun 2017 dirinya pun mulai tertarik membeli pot dan polybag lalu menanam aneka bunga.

Wilhelmina Wilda saat ditemui di tempat jualannya, Selasa (3/11/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Disebutkan, bunga-bunga yang sudah bertumbuh agak besar tersebut pun dibawanya lalu diletakkan di depan pondok kecil sederhana miliknya di Pasar Alok persis di depan sarana toilet umum.

“Pulau Flores kan artinya Pulau Bunga sementara di tempat ibadah dan taman doa juga banyak ditanami bunga sehingga kenapa kita tidak menanam bunga dan menjualnya untuk menambah pendapatan,” ungkapnya.

Isabela sebutkan aneka bunga yang dijualnya ditanam sendiri dan kadang membeli dari masyarakat yang menjualnya lalu dia dibeli dan dijualnya kembali dengan harga yang wajar.

Ia mengatakan, bibit bunganya diambil dari rumah kerabat atau mengambil bibit bunga kering yang ada di taman-taman di Kota Maumere maupun taman doa lalu menyemaikannya hingga besar.

“Semua jenis bunga saya jual dan paling rendah harga minimal Rp10 ribu dan bisa dijangkau masyarakat. Ada juga yang harganya mencapai Rp50 ribu satu potnya,’ terangnya.

Isabela bersyukur dalam sehari bisa mendapatkan pemasukan hingga Rp100 ribu dari menjual bunga dan kini sudah ada 4 penjual bunga sejenis di Pasar Alok setelah melihat usahanya bisa memperoleh penghasilan.

Saat wabah corona menyebar hingga bulan Juli, ia mengaku aktifitas pasar sepi sehingga waktu luang lebih banyak dimanfaatkan dengan mengambil tanah di got atau saluran air di dalam areal pasar dan ditaruh di pot.

“Untuk pupuk tanaman saya ambil dari kotoran ayam di kandang-kandang ayam yang ada di los ayam di Pasar Alok. Paling saya hanya keluarkan modal membeli polybag dan pot saja,” ungkapnya.

Isabela pun kini menanam tanaman obat-obatan seperti kumis kucing, binahon, lidah buaya dan lainnya di dalam pot untuk dijual dan terkadang daunnya diberikan secara cuma-cuma kepada orang yang membutuhkan untuk obat.

Ia juga menanam tanaman sayur-sayuran,buah-buahan seperti pepaya,nangka dan mangga serta tanaman pohon pelindung seperti kersen dan ketapang yang kadang juga sering dibeli.

“Saya kumpulkan juga biji buah-buahan yang dimakan orang dan dibuang sembarangan di jalan di areal pasar untuk disemai di dalam polybag dan dijual kembali,” terangnya.

Seorang pembeli bunga, Sabrina yang ditemui di Pasar Alok mengaku membeli bunga kamboja berwarna merah di dalam pot yang dijual di Pasar Alok seharga Rp20 ribu per potnya.

Dirinya mengaku lebih praktis membeli bunga yang dijual lalu membeli pot sendiri yang lebih bagus baru bunga tersebut dipindahkan di dalam pot untuk diletakkan di depan teras rumahnya.

“Lumayan kita tinggal tanam saja dan ganti potnya saja yang lebih bagus. Harganya pun murah ada yang Rp10 ribu sehingga sekali beli bisa sampai beberapa jenis bunga,” terangnya.

Lihat juga...