Penjualan Daging Sapi di Purwokerto Menurun

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

PURWOKERTO — Penjualan daging sapi pada beberapa pasar tradisional di Banyumas mulai menurun dalam sebulan terakhir. Meskipun harga normal, yaitu Rp 120.000 per kilogram, namun jumlah pembeli tetap menurun.

Salah satu penjual daging sapi di Pasar Wage Purwokerto, Sugito mengatakan, walaupun ada bantuan dari pemerintah, seperti bantuan sosial tunai (BST) hingga subsidi gaji bagi pekerja, namun masyarakat lebih memilih untuk menggunakan bantuan tersebut untuk kebutuhan pokok.

“Kalau pada awal pandemi Covid-19, saat bantuan cair, banyak masyarakat yang memborong daging, tetapi sekarang masyarakat lebih memilih untuk berhemat. Mungkin karena pandemi ini sudah terlalu lama, sehingga mereka mulai berfikir untuk hidup lebih hemat,” tutur Sugito, Selasa (24/11/2020).

Sebelumnya, dalam satu hari, Sugito mengaku bisa menjual sampai 70 kilogram, saat ramai bahkan bisa mencapai 100 kilogram per hari. Namun, sekarang penjualannya selalu di bawah 50 kilogram.

Penurunan omset penjualan ini juga dialami pedagang daging sapi lainnya. Rujito misalnya, bahkan hanya bisa menjual tidak lebih dari 25 kilogram daging sapi per harinya. Bahkan, minggu lalu ia sempat tidak berjualan selama dua hari, karena sepi pembeli.

“Mungkin karena sekarang kasus Covid-19 meningkat lagi, jadi orang banyak yang tidak lagi berbelanja ke pasar tradisional, serta orang jadi cenderung memilih untuk berhemat,” katanya.

Tidak hanya pembeli dari kalangan masyarakat biasa yang menurun, pesanan daging sapi dari beberapa warung makan dan restoran juga mengalami penurunan jumlah.

Disinggung tentang suplay daging sapi untuk pasokan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), Rujito mengaku pernah mendapatkan tawaran untuk ikut menyuplai kebutuhan daging. Namun setelah dipertimbangkan kembali, ia memilih untuk menolaknya. Sebab, harga jualnya terbilang rendah, di bawah Rp 100.000 dan untuk pembayarannya juga ada jangka waktunya. Sehingga untuk pedagang daging sapi yang tidak terlalu besar, tawaran tersebut tidak begitu menguntungkan.

“Kalau untuk pedagang besar yang memotong sapi sendiri, mungkin masih masuk harga di bawah Rp 100.000 per kilogramnya, tetapi untuk pedagang kecil seperti saya, tidak masuk. Apalagi pembayarannya juga tidak langsung, jadi harus punya dobel modal,” ucapnya.

Karenanya, baik Rujito maupun Sugito lebih memilih untuk berjualan seperti biasa di pasar tradisional. Jika stok dagangan mereka tidak habis hari ini, maka daging akan dimasukan dalam freezer dan dijual kembali keesokan harinya.

Lihat juga...