Penjualan Kursi dari Botol Plastik Bekas di Sikka Meningkat

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Botol-botol minuman bekas dengan ukuran 1,5 liter yang banyak dibuang rupanya bisa diolah dan menghasilkan produk kursi dan meja bekas, dengan harga jual yang lumayan besar, sehingga memberikan keutungan yang lumayan.

Pengrajin kursi dan meja dari botol plastik, Maria Angelina Deya saat ditemui di rumahnya di Desa Nelle Urung, Kecamatan Nelle, Kabupaten Sikka, NTT, Selasa (24/11/2020). Foto : Ebed de Rosary

Dalam sebulan penghasilan yang diperoleh seorang ibu rumah tangga di Desa Nelle Urung, Kecamatan Nelle, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) bisa mencapai jutaan rupiah, bahkan  puluhan juta rupiah, bila pesanan melimpah.

“Pesanan bukan saja dari Kabupaten Sikka saja tetapi dari berbagai wilayah di lainnya di Pulau Flores dan NTT,” kata Maria Angelina Deya, pengrajin kursi dan meja dari botol bekas saat ditemui di rumahnya, di Desa Nelle Urung, Kabupaten Sikka, NTT, Selasa (24/11/2020).

Maria katakan, untuk Kabupaten Sikka dirinya menjual seharga Rp1,5 juta satu set yang terdiri dari 4 kursi dan satu meja kaca. Sementara untuk wilayah lainnya di Flores Rp1.750.000 per setnya.

Dirinya pun mendapatkan pesanan untuk dikirim ke Surabaya Jawa Timur, dimana satu set dijualnya seharga Rp2,5 juta termasuk ongkos kirimnya dan pesanan pun mulai banyak dari luar Kabupaten Sikka.

“Dalam sehari kita bisa menghasilkan 2 sampai 3 set kalau pesanan banyak. Penghasilannya lumayan, karena satu set kursi dan meja kita bisa mengantongi keuntungan Rp1 juta,” ucapnya.

Maria mengaku, selama masa pandemi Corona memang pesanan agak menurun namun dirinya bersyukur pesanan selalu ada, sehingga masih bisa mengantongi jutaan rupiah setiap bulannya.

Ia akui untuk membuat satu set kursi dan meja membutuhkan 139 botol dimana 3 botol bekas dibeli dengan harga Rp2 ribu sehingga dengan modal Rp500 ribu saja sudah bisa menghasilkan 3 set meja dan kursi.

“Pembuatannya mudah dan keuntungannya lumayan bagus. Namun saya kesulitan bahan baku botol plastik bekas karena banyak pemulung yang menjualnya ke pengumpul barang bekas,” ungkapnya.

Yosefus Seli, warga Kota Maumere yang ditanyai mengaku tertarik membeli kursi dari botol plastik bekas karena harganya murah dan tahan lama, beda dengan dari bahan kayu karena botol tidak dimakan rayap.

Yosefus menyebutkan, banyak potensi untuk mendapatkan uang dengan memanfaatkan barang-barang bekas dan diolah menjadi produk kerajinan tangan maupun yang lainnya yang memiliki nilai jual tinggi.

“Sampah kalau diolah menjadi produk kerajinan tangan yang bagus pasti akan diminati oleh pembeli. Kursi dari botol plastik ini tidak ada yang tahu kalau bahannya dari botol plastik bekas karena bentuk dan modelnya bagus,” ucapnya.

Lihat juga...