Penjualan Produk Asesoris di Sikka, Sepi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Penjualan aneka produk suvenir dan kerajinan tangan yang diproduksi perajin lokal di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) masih belum menggeliat akibat pandemi Corona.

Meski begitu, pemesanan mulai ada. Mengingat sudah mulai digelarnya pesta pernikahan sehingga membuat suvenir pun mulai dibeli untuk tamu undangan yang hadir di acara pesta.

“Selama Corona memang penjualan suvenir mati suri karena tidak ada pesta pernikahan yang selama ini selalu membeli suvenir,” sebut Sherly Irawati, penjual asesoris Jaya Baru Etnic, Maumere, Kabupaten Sikka, NTT saat ditemui Cendana News di tempat usahanya, Selasa (17/11/2020).

Salah seorang penjual asesoris dan suvenir yang juga pemilik Jaya Baru Etnic di Kota Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Sherly Irawati saat ditemui di tokonya, Selasa (17/11/2020). Foto: Ebed de Rosary

Sherly mengatakan, pesta pernikahan mulai diperbolehkan sejak bulan September dan mulai marak digelar sejak bulan Oktober, namun penjualan suvenir juga belum terlalu menggeliat.

Dirinya menduga, akibat dampak Corona membuat dana untuk pembelian asesoris dan suvenir pun dipangkas sehingga hanya satu dua pernikahan saja yang memesan suvenir dalam jumlah terbatas.

“Biasanya selain pesta pernikahan, ada juga acara-acara yang digelar pemerintah dan lembaga swasta membutuhkan suvenir dan asesoris untuk dibagikan kepada peserta yang hadir,” ujarnya.

Sepinya order kata Sherly, membuat dirinya terpaksa banting setir dengan membuat aneka masker dari kain-kain perca sisa pembuatan asesoris dan suvenir terutama dari kain tenun.

Ia beralasan, sebagai perajin pihaknya harus berkreasi dan mengikuti tren selama pandemi Corona. Apalagi  banyak yang beralih membuat masker, karena sampai saat ini masih ada yang pesan.

“Banyak yang memesan masker yang terbuat dari kain tenun, karena unik dan sekaligus bisa sebagai fashion juga. Pendapatan pun lumayan, bisa menutupi kekosongan saat toko suvenir harus tutup selama sekitar 6 bulan,” ungkapnya.

Perajin asesoris dari kain perca, Yosefina Nona, mengaku, terpaksa berhenti membuat asesoris karena sekolah libur dan penjualan asesoris pun menurun drastis bahkan tidak ada pembeli.

Nona menyebutkan, meskipun harga asesoris seperti anting, gelang, gantungan kunci dan lainnya harganya Rp5 ribu per buah, namun tetap saja jarang ada pembeli dalam jumlah besar selama pandemi Corona.

“Terpaksa saya berhenti berproduksi dan mencari kerja lain untuk menambah penghasilan keluarga dengan menjual aneka masakan melalui media sosial. Dulu sehari bisa dapat untung Rp100 ribu sekarang bisa tidak ada pemasukan sama sekali,” ungkapnya.

Lihat juga...