Penulis: Metafora, Unsur Penting Puisi Sering Kurang Dikuasai Penyair

Editor: Koko Triarko

Penulis buku, Widyanuari Eko Putra, menunjukkan buku karyanya saat ditemui di kantor penerbit Beruang, Jalan Peterongan Semarang, Senin (23/11/2020). –Foto: Arixc Ardana

SEMARANG – Media cetak, khususnya surat kabar, banyak memuat puisi dari penyair-penyair berkualitas, tetapi pada saat bersamaan ada juga yang memunculkan puisi-puisi kurang bagus secara metafora dan pilihan tema.

“Metafora ini merupakan salah satu unsur penting dalam puisi yang sering kurang dikuasai para penyair. Kemampuan menciptakan metafora menjadi salah satu kunci penting bagi penyair dalam menulis puisi yang baik,” papar penulis buku, Widyanuari Eko Putra, saat ditemui di kantor penerbit Beruang, Jalan Peterongan Semarang, Senin (23/11/2020).

Dalam pandangan romantik, metafora merupakan wujud integral dari bahasa dan pikiran sebagai sebuah cara pencarian pengalaman. Sebuah bentuk metafora dipandang tidak hanya sebagai refleksi dari bagaimana penuturnya menggunakan bahasa, tetapi juga sebagai refleksi dari bagaimana pikiran-pikiran penuturnya.

Di satu sisi, pemuatan puisi di media cetak juga menjadi perhatiannya. Pegiat sastra di Semarang ini berupaya mendokumentasikan puisi yang tayang di media cetak tersebut. Terutama edisi akhir pekan yang kerap membuat lembar sastra puisi.

“Hasil dokumentasi ini kemudian saya manfaatkan untuk menulis buku yang berisi catatan seputar puisi-puisi yang terbit di media cetak. Termasuk juga memuat apresiasi dan kritik ringkas terkait puisi-puisi yang dimuat,” ungkapnya bercerita tentang buku karyanya berjudul ‘Yang Tinggal Hanyalah Kata: Pujian dan Kutukan untuk Puisi Koran’ tersebut.

Penulis yang tergabung dalam peserta Residensi Sastrawan Berkarya di Wilayah 3T 2020 Kemendikbud tersebut, mengaku membutuhkan waktu hingga 10 bulan untuk menyelesaikan buku setebal 364 halaman ini.

“Setiap akhir pekan selama sepuluh bulan, saya membeli koran dan membaca puisi di koran-koran tersebut, lalu mencatat dan menulisnya ke dalam catatan apresiasi dan esai. Khususnya koran atau surat kabar yang terbit di Jateng dan DIY,” tambahnya.

Terpisah, penyair sekaligus akademisi di Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Setia Naka Andrian, yang dihubungi secara terpisah, mengaku mengapresiasi buku dokumentasi puisi yang diterbitkan secara indie tersebut.

“Dokumentasi puisi ini jarang dilakukan. Seringkali hanya untuk disimpan, karena media cetak dengan dipindai atau di-scan. Namun dalam buku tersebut, penulis memberikan catatan, apresiasi termasuk kritik. Ini menjadi kerja dokumentasi yang sudah jarang sekali dilakukan oleh para akademisi dan penulis kita,” terangnya.

Dipaparkan, dengan adanya catatan tersebut buku itu juga bisa menjadi referensi bagi para penyair pemula yang ingin atau tengah belajar tentang puisi, agar menghasilkan puisi yang berkualitas.

Lihat juga...