Penurunan Fungsi Gigi Bisa Picu Penyakit Serius

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Kecenderungan untuk mengabaikan kesehatan gigi dan mulut, terjadi karena ketidakpahaman masyarakat, bahwa gigi dan mulut memiliki keterkaitan erat dengan organ tubuh lainnya. Padahal, penurunan fungsi gigi dan mulut mampu memicu risiko penyakit serius. Sehingga sangat penting untuk selalu memperhatikan gigi dan mulut dalam keseharian.

Ahli Gigi dan Mulut, drg. Yuli Puspaningrum, SpKG., menjelaskan gigi memiliki fungsi sebagai mastikasi, yaitu membantu proses pengunyahan, fonasi, yaitu membantu proses pengucapan huruf, proteksi, yaitu untuk menjaga kesehatan jaringan di bawahnya dan menjaga keseimbangan fungsi seluruh organ tubuh serta estetik, yaitu untuk menjaga vertikal dimensi wajah dan mempengaruhi penampilan profil wajah.

“Karena empat fungsi utamanya inilah, sangat penting untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut, walaupun sedang dalam masa pandemi seperti saat ini,” kata Yuli, dalam acara online kesehatan, Jumat (27/11/2020).

Ahli Gigi dan Mulut, drg. Yuli Puspaningrum, SpKG., dalam acara online tentang kesehatan gigi dan mulut, Jumat (27/11/2020). –Foto: Ranny Supusepa

Ia menyebutkan, dari beberapa penelitian yang dilakukan, ditemukan gangguan pada gusi dan gigi mampu meningkatkan potensi risiko terjadinya penyakit serius pada tubuh. Seperti gangguan pada jantung, diabetes, demensia, gangguan kehamilan dan stroke.

“Permasalahan yang sering timbul berdasarkan data Riskesdas 2018 adalah gigi rusak karena berlubang, yang mengambil porsi 45,3 persen dari keseluruhan kasus. Diikuti oleh gigi hilang karena dicabut atau karena tanggal sendiri, dengan cakupan 19 persen, gigi goyah 10,4 persen dan gigi telah ditambal karena berlumbang 4,1 persen,” urainya.

Sementara untuk masalah kesehatan mulut, kasus yang terbesar adalah 14 persen, yaitu gusi bengkak dan atau keluar bisul yang akhirnya menimbulkan abses.

“Diikuti dengan gusi mudah berdarah, 13,9 persen, sariawan berulang minimal 4 kali 8 persen dan sariawan menetap yang tidak mau sembuh 0.9 persen dalam rentang waktu minimal 1 bulan,” ujar Yuli.

Selama masa pandemi ini, Yuli menyebutkan keluhan yang sering terjadi adalah karena pola makan di masa pandemi dan tingkat stres dari seseorang yang menyebabkan gigi mudah rusak, atau retak dan bau mulut.

“Yang bisa kita lakukan penanganan gangguan gigi dan mulut biasanya yang pertama tentunya pencegahan,” ujarnya.

Pencegahan ini bisa berupa proteksi topikal aplikasi fluoride, fissure sealants, DHE dan Cambra.

“Jika memang tetap terjadi gangguan pada gigi dan gusi, alternatif selanjutnya adalah kuratif. Yaitu, restorasi gigi, orthodonsi dan bedah mulut. Tentunya, pelayanan ini didapatkan setelah melakukan konsultasi yang untuk masa pandemi dilakukan secara online,” urainya.

Dan, setelah tindakan kuratif dilakukan, selanjutnya yang bisa dilakukan dalam menjaga fungsi gigi adalah rehabilitatif.

“Tindakannya adalah upaya pengembalian fungsi gigi dengan menggunakan gigi tiruan, implan gigi, mahkota dan jembatan,” pungkasnya.

Lihat juga...