Persoalan Limbah Medis Harus Diselesaikan Secara Holistik

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Tingginya angka penggunaan alat kesehatan seperti masker, APD, disinfektan, dan sejumlah alat kesehatan lainnya selama masa pandemi Covid-19, membuat topik pengelolaan limbah medis menjadi persoalan serius. Upaya mengatasi masalah kesehatan tampak belum sejalan dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Suharso Monoarfa, mengatakan, bahwa pengelolaan limbah medis adalah tanggung jawab kolektif dan harus diselesaikan secara holistik.

“Hari ini kita semua harus melangkah bersama dengan prinsip kolaboratif, berbagi peran dan tanggung jawab untuk mengatasi persoalan limbah medis dalam rangka mewujudkan Indonesia yang asri, sehat dan maju,” terang Suharso pada kegiatan Seruan Nasional dalam Akselerasi Penanganan Limbah Medis, Jumat (13/11/2020) secara virtual.

Suharso menilai, penerapan praktik pengelolaan limbah medis yang sesuai dengan persyaratan merupakan langkah penting guna mencegah penyebaran penyakit menular, termasuk Covid-19, serta dampak bahan berbahaya dan beracun bagi kesehatan manusia maupun lingkungan.

“Mari kita pastikan desain perencanaan pembangunan nasional dan daerah, termasuk perencanaan investasi agar mempraktikkan tata kelola pembangunan limbah medis yang baik dan bersih, termasuk memprioritaskan ketersediaan sarana prasarana dan peralatan yang sesuai standar,” tandas Suharso.

Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi juga menyerukan hal serupa. Bahkan Budi menegaskan, pihaknya siap mendukung semua pihak, baik pemerintah pusat, daerah, swasta maupun masyarakat sipil dalam mengelola serta menangani limbah medis.

“Kementerian Perhubungan mendukung pemenuhan pengelolaan limbah medis yang aman bagi manusia dan lingkungan dengan menyediakan pengaturan sistem transportasi limbah medis yang kondusif,” tukas Budi.

Pada forum yang sama, Dirjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan, Kirana Pritasari, mengungkapkan, bahwa saat ini Indonesia tengah dihadapkan pada lima tantangan besar dalam pengelolaan limbah medis. Yaitu kesenjangan antara kapasitas dan timbunan limbah, distribusi fasilitas pengolahan, koordinasi dan sinergi antar-instansi, peran pemerintah daerah, dan isu mengenai pembiayaan.

Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes, Kirana Pritasari, menjadi pembicara pada kegiatan Seruan Nasional dalam Akselerasi Penanganan Limbah Medis, Jumat (13/11/2020) secara virtual. Foto: Amar Faizal Haidar

“Peningkatan fasilitas pengolahan limbah medis belum dapat menjawab tantangan yang ada, tanpa distribusi yang merata di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, akselerasi penanganan limbah medis hanya dapat berhasil apabila semua pihak pemangku kepentingan bahu membahu, berkolaborasi menyelesaikan hal ini,” jelas Kirana.

Apabila kolaborasi itu terwujud, kata Kirana, maka secara otomatis persoalan pembiayaan penanganan limbah medis dengan sendirinya akan teratasi.

“Karena pembiayaan ini juga merupakan isu paling krusial dalam menangani limbah medis. Kalau kita fokus dan memiliki komitmen bersama terhadap kesehatan masyarakat dan kelestarian lingkungan, maka kita akan bersama mengalokasikan anggarannya,” pungkas Kirana.

Lihat juga...