Petambak Tradisional di Lamsel Harapkan Rehabilitasi Saluran Irigasi

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Sejumlah petambak tradisional di wilayah Lampung Selatan harapkan rehabilitasi saluran tambak rakyat. Sutiyo, salah satu pembudidaya udang vaname skala tradisional menyebut sebagian petambak masih memanfaatkan saluran irigasi tradisional. Sistem tersebut menjadi program Pengelolaan Irigasi Tambak Partisipatif (Pitap) swadaya.

Sistem pengelolaan irigasi Pitap dilakukan untuk meningkatkan fungsi jaringan saluran irigasi yang mengalami penurunan. Sistem irigasi tradisional sebutnya mengandalkan pasang surut air laut di Pantai Penobakan, Tanjung Tuha. Petambak tradisional dengan luas ratusan hektare sebutnya dikelola oleh Kelompok Pengelola Irigasi Perikanan (Poklina).

Ketersediaan air bagi petambak dilakukan dengan pola pembagian secara bergilir. Antisipasi terjadinya percampuran air laut,air payau pada saluran irigasi dengan limbah air panen petambak melakukan pola panen terjadwal.  Cara tersebut dilakukan agar udang petambak tidak tertular penyakit berak putih, bintik putih hingga myo.

“Pengelolaan saluran irigasi oleh petambak dilakukan secara swadaya namun kami tetap berharap ada bantuan dari pemerintah untuk rehabilitasi Pitap yang bisa memisahkan antara saluran pemasukan dan pembuangan,selama ini saluran tambak kerap longsor terutama memasuki musim penghujan,” terang Sutiyo saat ditemui Cendana News, Senin (16/11/2020).

Sutiyo menyebut idealnya saluran irigasi dibuat permanen seperti pada irigasi pertanian. Pembuatan saluran irigasi permanen dengan semen sebutnya akan memudahkan pemisahan saluran pemasukan (inlet) dan pembuangan (outlet). Petambak yang jumlahnya mencapai puluhan orang sebutnya memanfaatkan Pitap dengan cara gotong royong untuk memenuhi kebutuhan air tambak.

Sutiyo, petambak udang vaname tradisional, menyiapkan pakan untuk udang miliknya, Senin (16/11/2020). -Foto Henk Widi

Kendala saluran irigasi kurang memadai sebut Sutiyo berimbas kualitas air kurang maksimal. Sebagian petambak memilih membuat petak khusus untuk pengendapan air. Rehabilitasi saluran irigasi yang baik akan berguna untuk memperlancar suplai air ke kawasan tambak. Peningkatan kualitas air sekaligus membuka peluang produktivitas yang baik pada udang yang dihasilkan.

“Perawatan dan pengelolaan saluran irigasi Pitap dilakukan secara swadaya dan gotong royong,” beber Sutiyo.

Petambak lain bernama Ngadio menyebut rehabilitasi saluran irigasi selama ini dilakukan swadaya. Petambak yang tergabung dalam kelompok kerap akan melakukan pembersihan saluran irigasis secara manual. Mengandalkan sekop dan cangkul pembersihan saluran irigasi tambak yang dilakukan usai panen.

“Waktu budidaya udang vaname secara tradisional dengan masa empat bulan selanjutnya diistirahatkan jadi waktu pembersihan saluran,” bebernya.

Program Pitap sebutnya digulirkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Namun ia menyebut program tersebut diberikan kepada pembudidaya dalam program cluster. Meski telah mengusulkan namun belum mendapat bantuan ia berharap petambak bisa mendapat bantuan program pitap dari KKP tahun depan. Selama ini perbaikan saluran irigasi dilakukan swadaya tanpa menggunakan alat berat.

Petambak lain di Desa Berundung, Kecamatan Ketapang bernama Hendra menyebut rehabilitasi saluran irigasi kerap dilakukan swadaya. Menyewa alat berat petambak kerap melakukan perbaikan saluran yang tertutup oleh lumpur. Potensi saluran tertutup sebutnya bisa terjadi selama musim penghujan. Sebab saluran irigasi sebagian terkoneksi dengan Sungai Way Sekampung.

“Petambak menggunakan saluran irigasi mengandalkan pasang surut Sungai Way Sekampung yang terkoneksi dengan laut Jawa,” bebernya.

Kendala yang dihadapi petambak sebutnya selain banjir yang berpotensi meluapkan Sungai Way Sekampung juga sampah plastik. Sampah yang dibuang ke sungai kerap mengakibatkan saluran irigasi ke tambak terganggu. Namun pada sejumlah titik tanggul Sungai Way Sekampung yang dibuat klep memudahkan pengaturan saluran irigasi ke areal pertambakan.

Lihat juga...