Petani di Bekasi Keluhkan Hama dan Pupuk Bersubsidi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BEKASI – Harga komoditi lengkuas di tingkat petani saat ini mengalami penurunan. Hal tersebut membuat petani di wilayah Kranggan, Kota Bekasi, Jawa Barat merana, karena dibarengi dengan hama yang menyerang tanaman serta susahnya akses pupuk subsidi bagi mereka.

“Harga turun, tanaman kami juga banyak diserang hama. Beginilah nasib petani, karena tidak ada ketetapan harga terendah dan tertinggi dari masing-masing komoditi. Jadi tergantung tengkulak saja,” ujar Dilong petani lengkuas di Jatirangga, Jatisampurna, Senin (9/11/2020).

Dikatakan saat ini, harga lengkuas di tingkat petani hanya mencapai Rp5000. Sementara harga di pasar lengkuas mencapai Rp10 ribu/kilogram. Tapi tidak mungkin petani harus menjual langsung ke pasar.

Untuk harga normal biasanya mencapai Rp8000 di tingkat petani. Tapi, beberapa waktu terakhir terus turun. Biasanya akibat stok melimpah di pasar tradisional, pasokan dari berbagai daerah seperti pasar induk, dan lainnya.

Menurutnya, saat ini petani lengkuas juga kerap gagal panen akibat serangan hama patek yang membuat busuk akar lengkuas. Jika sudah kena patek, maka jangan harap bisa panen maksimal.

“Hama itu, kami sebut patek, tidak tahu kalau bahasa ilmiahnya. Yang pasti akar menghitam dan habis, sampai sekarang belum ada solusi soal hama patek, meskipun kami sudah konsultasi,” ujar Dilong.

Petani lengkuas lainnya, mengaku bernama Kang Udin, mengatakan bahwa keluhan petani soal akses pupuk saat ini sulit. Dia berharap penyuluh pertanian bisa datang memberi kemudahan akses petani untuk mendapatkan pupuk subsidi.

“Kami ini, petani kecil menggarap lahan pengembang dengan luas terbatas. Harusnya bisa diberi kemudahan dan perhatian sebagai bentuk kehadiran dinas pertanian,” paparnya.

Diakuinya, ada ratusan warga di wilayah Jatisampurna bercocok tanam di lahan pengembang secara mandiri. Profesi bercocok tanam sudah lakoni sejak dulu, sebagai mata pencaharian.

Diketahui, banyak lahan di sekitar Eraska masih tanah lapang, dan dimanfaatkan warga sekitar untuk bercocok tanam aneka sayuran secara tumpang sari sebagai mata pencaharian utama. Mereka sudah memiliki tengkulak yang selalu mengambil hasil panen.

Namun mereka mengaku selama ini, tidak pernah mendapat perhatian, terutama terkait pupuk subsidi, tidak pernah mereka rasakan.

“Bingung mau beli ke mana, katanya di Teluk Pucung. Kalau harus ke sana dari ujung ke ujung. Kami petani begini, nggak mungkin belanja jauh hanya untuk pupuk berapa kilo saja. Harusnya ada di wilayah Jatiasih atau di Jatisampurna,” ujarnya.

Lihat juga...