Petani di Lamsel Mulai Tanam Jagung

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Hujan yang mulai turun di sejumlah wilayah Lampung Selatan, dimanfaatkan oleh petani untuk melakukan penanaman jagung.

Arisanto, petani di Desa Karangsari,Kecamatan Ketapang, mengaku mulai melakukan tahap dua pada lahan jagung miliknya. Ia telah melakukan penanaman sebulan sebelumnya, dan memasuki tahap pemupukan.

Pada lahan pertama, lokasi penanaman jagung berada di tepi sungai Siring Dalem. Penyiraman dilakukan pada lahan yang akan ditanami jagung. Selain sungai, ia memanfaatkan penyiraman menggunakan embung milik Balai Pengelolaan Aliran Sungai dan Hutan Lindung Way Seputih Way Sekampung. Pada lahan ke dua, ia melakukan pengolahan lahan dengan traktor.

Musim hujan yang telah turun, dimanfaatkan untuk penaburan benih atau wur. Meski hujan belum merata, kondisi cuaca mendukung untuk penanaman jagung.

Perhitungan waktu atau mangsa menjadi kerarifan lokal baginya sebagai petani. Saat mangsa ketiga atau kemarau, petani memilih berhenti menanam. Masuk mangsa rendengan atau penghujan, ia mulai melakukan penanaman jagung.

Lahan pertanian jagung usia satu bulan milik petani di Desa Karangsari, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, Senin (2/11/2020). -Foto: Henk Widi

“Syarat tanaman jagung tumbuh dengan baik jika tanah telah basah, namun pengolahan lahan memakai mesin traktor telah kami lakukan sebulan sebelumnya saat kemarau, sehingga kondisi tanah lebih gembur dan mempermudah penanaman jagung dengan sistem tajuk,” beber Arisanto, saat ditemui Cendana News, Senin (2/11/2020).

Arisanto bilang, jenis jagung hibrida dipilih karena memiliki ketahanan terhadap cuaca. Pada kondisi normal, jenis jagung tersebut butuh proses penyiraman selama dua pekan sekali. Namun usai penanaman kala musim penghujan, ia tak memerlukan proses penyiraman. Butuh waktu dua pekan tanaman sudah bisa dipupuk tahap pertama.

Ketersediaan pupuk untuk penanaman jagung, menurut Arisanto telah masuk dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK). Setiap hektare lahan jagung, ia mendapat kuota pupuk bersubsidi jenis Urea 250 Kg, NPK 150 Kg, ZA 50 Kg dan pupuk organik 500 kg.

Jenis pupuk SP36 yang biasanya diberi subsidi pada tahun depan, mulai dibeli dengan nonsubsidi. Saat ini, ia masih mendapat jatah pupuk SP36 sebanyak 150 kg.

“Kalau kebutuhan pupuk kurang, saya bisa membelinya dari nonsubsidi, meski harga lebih mahal,” cetusnya.

Petani lain, Hasanudin, menyebut hujan yang turun membantu pertumbuhan tanaman jagung. Sempat mengalami kekeringan sebulan sebelumnya dan mengandalkan penyiraman, kini ia tak kuatir tanaman kering. Memasuki pemupukan tahap ke dua, tanaman jagung miliknya akan mengalami pertumbuhan daun yang lebih subur. Tanpa serangan hama, jagung bisa dipanen saat usia empat bulan.

Penanaman jagung pada awal musim penghujan, ia memilih jagung dengan batang besar. Langkah itu dipilih menghindari batang roboh imbas hujan. Ia memilih bibit jagung varietas NK dan DK yang memiliki ciri khas bobot buah lebih berisi. Sebab, sebagian petani memilih menjual jagung dalam bentuk pipilan.

“Pilihan varietas tahan bulai saat penghujan, kokoh banyak ditanam petani hadapi musim penghujan,” beber Hasanudin.

Sebagian petani yang mulai melakukan pengolahan lahan dan penanaman jagung, menjadi berkah buruh tanam.

Desianti, salah satu buruh tanam mengaku sejak hujan mulai turun, petani yang telah melakukan pengolahan lahan dua bulan sebelumnya langsung melakukan penanaman. Lahan yang dibajak dengan traktor telah ditaburi dolomit atau zat kapur dan pupuk kandang.

“Petani membuat guludan untuk mempemudah pengaturan jarak tanam dengan sistem tajuk,” cetusnya.

Bekerja sebagai buruh tanam jagung atau buruh wur, membuat ia bisa mendapat penghasilan. Sistem upah harian diberikan pemilik kepada buruh tanam masing-masing Rp70.000 per orang. Penanaman yang dilakukan oleh puluhan orang membuat penanaman bisa dilakukan dalam waktu sehari. Selama musim tanam, lebih dari sepuluh lahan petani ditanaminya dengan hasil ratusan ribu rupiah.

Lihat juga...