Peternak Bebek di Lamsel Andalkan Pakan Alami

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Suyatinah mengumpulkan belasan butir telur bebek yang berada di halaman belakang rumahnya. Selama penghujan, ia menyebut produktivitas telur meningkat. Warga Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan ini mengaku memelihara puluhan ekor bebek petelur, entok dan ayam, dengan mengandalkan pakan alami.

Suyatinah mengatakan, memelihara unggas menjadi sumber pemenuhan protein hewani. Bibit bebek petelur sebagian diperoleh dari membeli dari peternak yang memiliki mesin penetas. Membeli bibit bebek per ekor Rp25.000 saat usia 25 hari, ia menjadikannya investasi. Dalam jangka enam bulan, bebek betina mulai bertelur, rata rata sehari bisa menghasilkan belasan butir.

“Bagi kebutuhan ekonomi keluarga, memelihara unggas jenis ayam, bebek, entok sangat membantu, karena di pedesaan dengan diliarkan unggas tetap bisa mencari makan dan asupan pakan tambahan memakai dedak dan nasi sisa yang mudah diperoleh dengan tambahan pur pabrikan,” terang Suyatinah, saat ditemui Cendana News, Senin (30/11/2020).

Suyatinah, warga Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, menunjukkan telur bebek, Senin (30/11/2020). -Foto: Henk Widi

Kala penghujan, Suyatinah bilang pakan melimpah dari cacing dan keong mas yang dicari di areal persawahan. Memiliki stok gabah hasil panen, ia juga bisa memperoleh sumber pakan saat menggiling gabah menjadi padi. Limbah bekatul atau dedak akan dicampurkan dengan ikan asin dari nelayan dan keong mas. Tambahan asupan vitamin akan merangsang bebek memproduksi telur yang melimpah.

Saat penghujan, bebek juga rentan penyakit lumpuh dan mudah terserang penyakit. Sebagai solusi, ia menyiapkan alas dari sekam padi dan jerami di kandang yang dibuat. Penyediaan kandang kering dan basah berupa kolam, memudahkan bebek berenang dan mandi. Ia bahkan menyediakan kolam ikan lele yang kerap digunakan untuk aktivitas berenang bebek.

“Kandang di halaman belakang rumah diberi pagar keliling memakai jaring agar tidak keluar, karena asupan pakan terpenuhi,” cetusnya.

Pemberian pakan bersama dengan ayam dan entok, membuat ia menghabiskan rata-rata 5 kilogram dedak per hari. Harga dedak semula Rp2.000, naik menjadi Rp3.500 imbas memasuki masa tanam. Namun saat musim panen, stok dedak di sejumlah penggilingan padi akan melimpah, sehingga harga lebih murah.

“Saya juga kerap mencari pakan dari pasar dan warung makan yang memiliki makanan sisa untuk pakan,”cetusnya.

Saat penghujan, ia kerap membiarkan bebek dilepasliarkan di kebun. Lokasi yang dekat dengan areal persawahan memudahkan bebek mencari pakan alami. Bebek akan kembali ke kandang saat petang dan kerap akan bertelur menjelang pagi hari. Selain mendapat hasil telur dari bebek, ia bisa menghasilkan telur dari ayam dan entok tanpa harus membeli di pasar.

Memelihara bebek, dilakukan juga oleh Rendi Antoni di Desa Sukaraja, Kecamatan Palas. Sebelum masa pengolahan, lahan sawah menjadi surga bagi peternak bebek. Sebab, bebek petelur akan mencari pakan di areal persawahan. Cacing, katak, belut dan keong sawah menjadi asupan pakan sumber protein bagi bebek. Ia memelihara sekitar 1000 ekor bebek petelur, dan ratusan ekor bebek pedaging.

“Selain pakan alami, tetap diberikan pakan buatan dan penambahan vitamin bagi bebek petelur,” cetusnya.

Rendi Antoni mengaku telah memiliki pelanggan tetap. Telur bebek dengan produksi mencapai ratusan butir dijual Rp2.000 per butir. Selain bisa menghasilkan telur bebek, juga bisa dijual ke pedagang kuliner. Bebek pedaging bisa dijual usia tiga bulan seharga Rp30.000 per ekor. Sementara bebek petelur bisa dijual saat tidak produktif memasuki usia tiga tahun.

Lihat juga...