PJJ Fase II akan Berakhir, Masalah tak Kunjung Selesai

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) Fase Pertama dinilai tidak menimbulkan masalah yang cukup berarti bagi para peserta didik. Tapi memasuki PJJ Fase Kedua, masalah mulai timbul seiring perubahan teman sekelas, materi baru dan wali kelas yang baru.

Dewan Pakar Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI,) Retno Listyarti, menyebutkan, PJJ Fase Pertama tidak menimbulkan masalah psikologis pada peserta didik karena lingkungannya adalah yang sudah mereka kenal sebelumnya. Lingkungan yang sempat bertatap muka dan berkomunikasi aktif.

“Saat fase dua ini, anak-anak lebih sulit mengatasi permasalahan psikologis, sehingga berpengaruh pada kesehatan mental seorang anak atau remaja,” kata Retno saat dihubungi Cendana News, Kamis (5/11/2020).

Permasalahan timbul, menurutnya, karena peserta didik harus menjalani PJJ Fase Dua dengan lingkungan yang baru. Lingkungan yang mereka tidak kenal sebelumnya.

“Anak naik kelas dengan situasi yang berubah, wali kelasnya ganti, guru mata pelajarannya berbeda, dan kemungkinan besar kawan-kawan sekelasnya juga berbeda dari kelas sebelumnya. Sementara peserta didik belum pembelajaran tatap muka sejak naik kelas,” urainya.

Pergantian lingkungan nirtatap muka, lanjutnya, membuat anak-anak sulit memiliki teman dekat untuk saling berbagi dan bertanya.

“Akibatnya, kesulitan pembelajaran ditanggung anak sendiri jika anak tersebut tidak berani bertanya kepada gurunya,” ucapnya.

Ketidakmerataan akses terhadap fasilitas pendukung menimbulkan potensi ada  anak yang tidak bisa mengatur waktu belajar, ada anak yang kesulitan memahami pelajaran, bahkan ada anak tidak memahami instruksi guru.

“Tidak dapat dipungkiri, pandemi ini juga dapat berdampak kepada aspek psikososial dari anak dan remaja di antaranya adalah perasaan bosan karena harus tinggal di rumah, khawatir tertinggal pelajaran, timbul perasaan tidak aman, merasa takut karena terkena penyakit, merindukan teman-teman, dan khawatir tentang penghasilan orangtua,” kata Retno menjelaskan.

Saat ini, orang tua memiliki peran sebagai penguat anak, tapi juga sekaligus bisa menjadi sumber masalah bagi anak-anaknya.

“Misalnya munculnya kekerasan pada anak secara emosional karena tidak memiliki kesabaran mendampingi anak belajar. Di antaranya kekerasan verbal seperti merendahkan kemampuan anak dalam belajar, dan atau menerapkan pola mendisiplinkan anak yang tidak tepat. Seperti memberikan hukuman dan sanksi yang dianggap bagi sebagian orang tua justru akan membangkitkan semangat pada anak. Padahal, justru sebaliknya, menimbulkan tekanan psikologis bagi anak,” paparnya.

Sekjen FSGI, Heru Purnomo, mengakui, bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memang sudah mengambil beberapa kebijakan, baik yang sifatnya regulasi maupun yang sifatnya operasional untuk mengantisipasi masalah yang timbul dalam pelaksanaan PJJ Fase Dua.

Sekjen FSGI, Heru Purnomo, saat dihubungi, Kamis (5/11/2020) – Foto: Ranny Supusepa

“Yang tercatat itu, seperti SE Mendikbud No. 4 Tahun 2020, Laman khusus PJJ bagi guru, Tayangan Belajar TVRI, Relaksasi BOS, SE Sesjen Mendikbud No. 15 Tahun 2020, Laman materi pengayaan, SKB 4 Menteri, Buka Sekolah Zona Hijau, BOS Afirmasi dan BOS Kinerja, Webinar Guru Belajar, Kepmendikbud No. 719/P/2020, SKB 4 Menteri, Relaksasi Buka Sekolah Zona Hijau dan Kuning, Pemberian Bantuan Kuota Internet dan Mahasiswa Mengajar dari Rumah,” ucapnya saat dihubungi terpisah.

Tapi, faktanya, tidak ada perbaikan yang berarti dalam pelaksanaan PJJ pada fase II, Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2020-2021.

“Ditemukan persoalan-persoalan yang timbul pada pelaksanaan PJJ Fase I dan masih juga muncul pada pelaksanaan PJJ Fase II,” imbuhnya.

Permasalahan yang terpantau antara lain, yaitu aturan Kemendikbud tidak ditaati dinas dan sekolah, masih menggunakan kurikulum normal, tugas menumpuk, kompetensi orang tua rendah, bongkar pasang model PJJ, model PJJ disamaratakan, PJJ membosankan  menyebabkan siswa stres, supervisi dinas tidak maksimal, minim kepemilikan gawai, dan sekolah tidak memiliki pedoman PJJ.

“Ini butuh evaluasi secara menyeluruh. PJJ Fase II ini kan sudah mau selesai. Sehingga masalah yang sama tidak akan timbul di fase berikutnya. Dan harus ada keterlibatan semua pihak, bukan hanya guru, tapi juga, misalnya kementerian kesehatan untuk membantu mengantisipasi kesehatan mental peserta didik,” pungkasnya.

Lihat juga...