Ponpes Aswaja Lintang Songo Didik Para Santri Budi Daya Jamur

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Sebagai upaya mendidik agar bisa mandiri ketika telah lulus dan masuk dunia kerja, Pondok Pesantren Aswaja Lintang Songo di desa Sitimulyo, Piyungan, Bantul, mendorong santriwan-santriwatinya untuk mengikuti program santripreneur dengan menjalankan berbagai jenis usaha. Salah satu usaha yang saat ini tengah dirintis adalah usaha di bidang pertanian, yakni budi daya jamur merang. 

Budi daya jamur merang dipilih karena dinilai memiliki pasar yang luas, nilai jual yang tinggi, serta perawatan yang relatif mudah dibandingkan jenis budi daya jamur lainnya. Apalagi, di kawasan sekitar pondok pesantren ini banyak terdapat merang atau sisa batang padi yang selama ini hanya terbuang dan tidak termanfaatkan dengan baik.

Ketua Yayasan Lintang Songo, Siti Hidayati, -Foto: Jatmika H Kusmargana

“Di sini para santri kita didik agar tidak hanya sekadar bisa ngaji, tapi juga dipersiapkan agar mandiri dan bisa memulai usaha untuk menghidupi keluarganya kelak,” ujar Ketua Yayasan Lintang Songo, Siti Hidayati, belum lama ini.

Siti mengatakan, seluruh proses pembuatan usaha budi daya jamur merang ini dikerjakan oleh para santri dengan cara bekerja bakti bersama-sama. Mulai dari membangun kandang jamur atau bubung, membuat rak tempat media jamur, hingga perawatan dan proses pemanenan.

Siti menyebut ,ada dua santri yang menangani secara pokok usaha budi daya jamur tiram ini. Yakni, siswa yang telah lulus dan masih tinggal di pondok.

“Kita akan lihat dulu seperti apa nanti perkembangan usaha ini ke depannya. Jika memang usaha ini bisa berjalan baik, bukan tidak mungkin kita akan menambah kapasitas kandang dan jumlah santri pengelola,” katanya.

Sementara itu, pendamping program santripreneur, Nur Yanto Hari Murti, menyebut dari kandang atau bubung seluas 62 meter persegi dengan kapasitas 4,2 ton media, diproyeksikan bisa menghasilkan jamur merang sebanyak 200 kilogram per sekali panen. Hal itu dimungkinkan, karena budi daya jamur merang ini dilakukan dengan sistim shaf bertingkat, sehingga mampu menampung media dalam jumlah lebih banyak.

“Untuk harga jualnya, satu kilogram jamur merang bisa mencapai Rp30ribu. Jauh lebih mahal dibandingkan jamur lain seperti jamur tiram yang hanya sekitar Rp20ribu. Jadi, potensinya sangat menguntungkan untuk para santri,” katanya.

Lihat juga...