Produksi Garam Pamekasan 2020 Turun 121.814 Ton

PAMEKASAN — Kepala Seksi Pengelolaan dan Pengembangan Kawasan Budidaya pada Dinas Perikanan Pemkab Pamekasan, Muzanni, menyebutkan, produksi garam rakyat di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur tahun 2020 turun 121.814 ton dibanding hasil produksi garam tahun 2019.

“Tahun 2020 ini, produksi garam rakyat di Pamekasan sebanyak 30.726 ton, sedangkan pada tahun 2019 sebanyak 152.540 ton,” kata Muzanni di Pamekasan, Jumat (13/11/2020).

Dengan demikian, sambung dia, ada penurunan produksi sebanyak 121.814 ton dibanding hasil produksi garam tahun 2019.

Ia menjelaskan, penurunan produksi garam rakyat tahun ini karena beberapa hal. Di samping karena terjadi kemarau basah, yakni musim kemarau yang tidak normal yang sering turun hujan, juga karena harga beli garam di tingkat petani anjlok.

Harga beli garam rakyat pada musim produksi garam tahun 2019 dalam kisaran antara Rp300 per kilogram hingga Rp400 per kilogram.

Akibatnya petani, kurang antusias dalam memproduksi garam. Apalagi, banyak hasil produksi garam tahun 2019 yang belum terserap hingga 2020.

Para petambak garam di Pamekasan banyak mulai memproduksi garam pada bulan Agustus, karena menunggu hasil produksi garam tahun sebelumnya laku terjual. Biasanya, mulai Juli para petambak garam sudah memproduksi garam.

“Ya akibatnya, produksi garam menurun drastis, karena penyebabnya seperti itu,” kata Muzanni.

Jumlah total produksi garam sebanyak 30.726 ton tahun ini, dari 15 desa penghasil garam yang tersebar di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Galis, Pademawu dan Kecamatan Tlanakan dengan total luas areal tambak 913,5 hektare.

Di Kecamatan Galis, ada empat desa yang menjadi produsen garam, yakni Desa Lembung, Polagan, Konang dan Desa Pandang, dengan luas tambak garam mencapai 458,6 hektare.

Di Kecamatan Pademawu desa yang memproduksi garam tersebar di delapan desa, yakni Desa Dasuk, Bunder, Pademawu Timur, Tanjung, Padelegan, Majungan, Pegagagan dan Desa Baddurih dengan luas tambak garam mencapai 445,4 hektare.

Sedangkan di Kecamatan Tlanakan, produksi garam di tiga desa, yakni Desa Tlesah, Tlanakan dan Desa Branta Tinggi dengan total luas tambak garam 9,6 hektare.

Dari 15 desa penghasil garam yang tersebar di tiga kecamatan itu, desa dengan luas tambak garam terbanyak ialah Desa Lembung, Kecamatan Galis, yakni 245 hektare dengan total produksi dalam kondisi normal mencapai 1.581,00 ton, sedangkan yang paling sedikit ialah Desa Tlesah, Kecamatan Tlanakan, yakni 2,6 hektare dengan total produksi 33,00 ton.

Penyebab lain yang memicu turunnya produksi garam rakyat di Kabupaten Pamekasan pada musim produksi garam tahun ini, akibat pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19).

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang pernah diterapkan pemerintah, juga menyebabkan aktivitas kegiatan di bidang produksi garam di kalangan petani di Pamekasan menurun, sehingga secara otomatis juga berpengaruh pada hasil produksi garam.

Menurut Ketua Umum Himpunan Masyarakat Petani Garam Indonesia (HMPGI) Mohammad Hasan, penurunan produksi garam pada musim produksi tahun ini tidak hanya terjadi di Kabupaten Pamekasan saja, akan tetapi juga se Jawa Timur.

Berdasarkan data organisasi ini, tahun 2020 ini total produksi garam se-Jawa Timur sekitar 900 ribu ton, turun dibanding Tahun 2019 yang mencapai 1,1 juta ton.

“Kendalanya memang cuaca yang masih sering turun hujan. Sama halnya produksi garam rakyat nasional yang diperkirakan sekitar 2,1 juta ton, turun dibanding Tahun 2019 yang mencapai 2,9 juta ton,” katanya dalam rilis yang disampaikan pada media.

Hasan mengatakan, Jawa Timur masih menjadi penghasil garam rakyat terbesar se-Indonesia, dengan total lahan tambak seluas 11.150 hektare yang tersebar di 12 kabupaten/kota, lumbungnya ada di Pulau Madura. Namun, produksi garam rakyat tersebut hanya terserap pasar sekitar 80 persen, yaitu untuk konsumsi masyarakat.

Untuk kebutuhan industri, perusahaan dan pabrik di Indonesia lebih memilih garam impor dari Australia dan India, sehingga hal itu memicu banyak garam rakyat hasil produksi 2019 yang tidak terserap, dan menyebabkan harga beli garam di tingkat petani sangat rendah apalagi, harga garam yang dipanen petani ditentukan oleh mekanisme pasar. (Ant)

Lihat juga...