Produksi Gula Merah, Sumiati Mampu Sekolahkan Anak

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Mencari kayu bakar, memanaskan cairan nira kelapa yang dideres hingga mengental dilakukan Anton. Meski masih duduk di bangku sekolah menengah pertama ia mengaku akrab dengan pekerjaan orang tua membuat gula kelapa. Sebutan lain untuk gula merah yang merupakan sumber mata pencaharian orang tua untuk membantu biaya sekolahnya.

Hampir enam bulan lebih Anton menyebut melakukan kegiatan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) imbas pandemi Covid-19. Sistem belajar dalam jaringan (daring) memaksanya untuk memiliki telepon pintar android. Berbeda dengan rekan sebayanya, ia tidak serta merta langsung meminta orangtuanya membelikan smartphone. Menjual hasil produksi gula merah jadi cara ia memiliki smartphone seharga Rp1,3 juta.

Anton yang masih duduk di kelas VII di salah satu SMP negeri mengaku, ia juga tak lantas memanfaatkan waktu dengan bermain smartphone. Keinginan untuk bermain game online seperti kawan-kawannya diisi dengan membantu orangtua.

Ia bahkan lebih memilih smartphone disimpannya saat membantu orangtua. Ia paham betul jerih payah orangtua untuk membelikannya fasilitas untuk belajar.

“Sistem belajar jarak jauh kerap dilakukan pagi hari sehingga banyak waktu untuk membantu orangtua di lokasi pembuatan gula merah. Setelah selesai belajar bisa membantu kesibukan orangtua. Membawa jeriken berisi air nira kelapa untuk dikumpulkan pada belanga. Selanjutnya dimasak sebelum dicetak menjadi gula,” terang Anton saat ditemui Cendana News, Kamis (5/11/2020).

Rutinitas membantu pembuatan gula merah sebutnya lebih sering dilakukan. Sebelum sistem belajar daring ia harus pergi ke sekolah sejak pagi hingga siang, baru sore hari bisa membantu orang tua.

Kini selama masa belajar daring ia bisa memiliki waktu banyak membantu orang tua. Pekerjaan yang tidak berat dilakukannya tanpa keluhan. Ia masih bisa membagi waktu usai gula dicetak untuk bermain bola kaki.

Sumiati sang ibu mengaku selama tinggal di Dusun Merut, Desa Hatta, Kecamatan Bakauheni,Lampung Selatan membuat gula jadi profesi pokok. Menyewa ratusan pohon kelapa sebesar Rp3 juta setahun ia membuat gula merah bersama Ishak, suaminya.

Sumiati, warga Dusun Merut, Desa Hatta, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan mencetak adonan gula merah yang digunakan untuk membiayai sekolah anaknya, Kamis (5/11/2020) – Foto: Henk Widi

Memproduksi gula menjadi sumber penghasilan yang bisa dipergunakan untuk kebutuhan harian dan membiayai anak sekolah.

“Beruntung anak memiliki pengertian tinggi atas pekerjaan orangtua, kami juga tidak meminta dibantu namun anak bersedia membantu,” bebernya.

Berbagi tugas dilakukan satu keluarga tersebut untuk memproduksi gula merah hingga siap jual. Saat sang suami memanjat pohon kelapa ia akan menyiapkan sarana belanga untuk mendidihkan air nira.

Proses penyiapan kayu bakar dibantu sang anak karena proses memasak air nira kelapa bisa mencapai delapan jam. Setelah dimasak adonan air nira kelapa akan mengental dan siap dicetak.

Cetakan gula merah sebutnya memakai potongan bambu. Satu hari produksi gula merah menghasilkan sekitar 30 kilogram dari sekitar 80 liter air nira kelapa. Per kilogram gula kelapa dijual seharga Rp15.000 yang akan ditampung oleh pengepul atau bos gula. Hasil penjualan rata-rata mencapai Rp450.000 hingga Rp600.000 sesuai jumlah gula dihasilkan.

“Harga di pasaran bisa lebih mahal karena penampung mengirim gula ke wilayah Banten dan Bandar Lampung,” cetusnya.

Ishak menyebut dari hasil membuat gula merah ia telah menyekolahkan anaknya hingga bangku SMA. Sementara sang bungsu masih duduk di bangku SMP. Lulus dari SMA sang anak mulai merantau dan bekerja di salah satu toko waralaba. Sang anak sebutnya ikut membantu pemasaran gula merah ke sejumlah pasar untuk meningkatkan penjualan.

Usaha membuat gula merah sebutnya penuh dengan risiko. Sebab setiap hari ia harus memanjat pohon kelapa setinggi belasan meter.

Namun ia mengaku niatan mengangkat derajat keluarga jadi tujuan utama. Meski hanya tamatan SD bersama sang istri ia ingin anak-anaknya minimal tamat SMA. Semua biaya pendidikan sebutnya berbekal dari usaha membuat gula. Ia beruntung sang anak ikut membantu karena waktu luang selama PJJ lebih banyak.

Lihat juga...