Produsen Perahu Tradisional di Lamsel Terkendala Kayu Berkualitas

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Sejumlah produsen perahu tradisional pada wilayah pesisir Lampung Selatan (Lamsel) mengalami kendala kebutuhan kayu berkulitas.

Romy, salah satu nelayan di Dusun Cukuh, Desa Maja, Kecamatan Kalianda menyebut, jenis kayu bahan perahu kerap dipilih sesuai tingkat keawetan, kekuatan, dan daya tahan. Kayu vital diperlukan oleh pemilik usaha pembuatan perahu.

Romy (kiri) nelayan di Dusun Cukuh, Desa Maja, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, melakukan perbaikan kemudi kapal, Selasa (3/11/2020) – Foto: Henk Widi

Konstruksi perahu untuk sarana usaha nelayan menangkap ikan, sarana transportasi antarpulau sangat penting bagi masyarakat pesisir pantai. Berbagai jenis bahan kayu untuk pembuatan perahu sebutnya mulai sulit diperoleh imbas alih fungsi lahan.

Penebangan dan tidak adanya upaya penanaman berimbas bahan baku perahu jenis kayu berkualitas sulit diperoleh.

Pesanan pembuatan perahu sebutnya, kerap harus menunggu kayu diperoleh dari wilayah lain. Jenis kayu untuk konstruksi perahu di antaranya jati, sonokeling, laban, pule dan kayu mahoni.

Modal yang dibutuhkan untuk membeli kayu bisa mencapai Rp5 juta untuk perahu ukuran kecil. Sebab kayu dibeli dengan sistem kubikasi sesuai jenis dan kualitas kayu.

“Semakin tinggi kualitas kayu dan tingkat ketahanan di air akan meningkatkan harga jual. Pemesan biasanya akan menyediakan kayu sebelum perahu dibuat, sementara produsen hanya melakukan konstruksi dari awal hingga selesai,” terang Romy, salah satu produsen perahu saat ditemui Cendana News, Selasa (3/11/2020).

Romy menyebut produsen perahu atau lebih tepatnya tukang kayu pembuatan perahu sangat dibutuhkan nelayan. Bagian-bagian yang pokok untuk konstruksi perahu meliputi lunas, gading, katir, badan perahu atau lambung, rumah mesin, songgo layar, tempat duduk. Semua bagian perahu itu memanfaatkan kayu jati, pule, laban sesuai dengan ketersediaan bahan yang ada.

Pasokan kayu berkualitas untuk pembuatan perahu kerap didatangkan dari wilayah lain. Pasokan terbanyak dari wilayah Lampung Barat dan Pesisir Barat. Pelaku usaha jual beli kayu bahan perahu kerap memanfaatkan peluang kebutuhan nelayan di wilayah pesisir. Berbagai jenis kayu yang memiliki tingkat keawetan tinggi akan semakin mahal.

“Nelayan akan melakukan kombinasi penggunaan kayu untuk penghematan, namun paling pokok kayu berkualitas pada bagian lambung dan lunas,” bebernya.

Pembuat perahu lain bernama Sutikno, warga Desa Totoharjo, Kecamatan Bakauheni mengaku memilih kayu nangka. Jenis kayu nangka memiliki serat memanjang dan berlapis. Kayu tersebut kerap diburu pembuat perahu karena tidak perlu melakukan penyambungan. Kombinasi penggunaan kayu jenis lain berupa jati, laban hingga kayu mahoni.

Penggunaan kayu jati pada bagian lunas menurutnya untuk menahan benturan. Sebab perahu nelayan kerap terbentur batu karang, ombak dan pasir saat akan disandarkan. Satu perahu dengan ukuran 12 meter yang dikonstruksi dari tahap awal bisa menghabiskan uang Rp6 juta. Biaya itu belum termasuk pengecatan, penambahan katir dan mesin.

“Modal usaha berupa alat tangkap perahu, mesin hingga jaring dan pancing bisa mencapai belasan juta untuk usaha mencari ikan,” bebernya.

Pasokan kayu berkualitas yang mahal sebutnya disiasati sesuai keinginan pelanggan. Semakin tinggi mutu dan kualitas bahan baku perahu harga semakin mahal. Sebagai solusi nelayan yang juga memiliki kebun  menanam jenis kayu untuk bahan perahu. Kayu jati, laban, pule yang berusia belasan hingga puluhan tahun bisa ditanam bersama kayu produktif lain.

Subawi, warga Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni memilih menanam kayu laban, nangka dan jati. Permintaan untuk pembuatan perahu kerap dijual sistem borongan.

Satu pohon dijual olehnya mencapai Rp3 juta hingga Rp5 juta. Peluang serapan kayu bagi sektor usaha pembuatan perahu menjadi sumber investasi jangka panjang. Setelah panen ia bisa melakukan penanaman tanaman baru untuk bahan perahu.

Lihat juga...