Proyeksi Pengembangan Sagu sebagai Komoditas Strategis Nasional Jalan di Tempat

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Sagu (Metroxylon spp.) adalah tanaman asli Indonesia yang banyak ditemui di Papua, Palopo, Sulawesi Tenggara dan Maluku. Dengan luasan areal hutan sagu terluas dan diversitas genetik terbesar di dunia, hingga saat ini perkembangan sebagai komoditas strategis nasional seperti jalan di tempat.

Pemerhati Sagu Otto Ihalauw saat acara online terkait pengembangan sagu di Indonesia, Senin (23/11/2020) – Foto Ranny Supusepa

Pemerhati, Otto Ihalauw menjelaskan, sagu memiliki potensi pengembangan produk turunan yang sangat luas selama didukung oleh semua stakeholder.

“Pengembangan sudah masuk ke RPJMN tapi kenyataannya hingga saat ini, pengembangan sagu sebagai komoditas strategis nasional masih jauh jika dibandingkan dengan beras,” kata Otto dalam salah acara online, Senin (23/11/2020).

Otto menjelaskan tanaman ini bisa dikembangkan menjadi single cell protein, pati sagu, pulp atau briket arang, ampas, dextrin dan glukosa.

“Kalau kita lihat dextrin, kaitannya dengan industri perekat, industri kosmetik, industri farmasi dan pestisida. Atau jika glukosa, akan berkaitan dengan produksi etanol, frutosa dan asam organik untuk kepentingan industri,” urainya.

Potensi sagu sendiri, sesuai dengan pernyataan Bintoro et al. (2010), data luasan di Indonesia adalah 4.1833 juta hektar. Sedangkan produktivitas per pohon, potensi di Indonesia diperkirakan sekitar 5 juta ton per tahun.

“Ada sesuatu yang kontradiktif, di satu sisi sagu memiliki potensi yang besar untuk pemenuhan kebutuhan pangan maupun kebutuhan industri lainnya, namun di sisi lain perkembangan masih belum didukung secara maksimal,” ucap Otto.

Tanaman sagu sendiri di Papua, menurutnya disebut sebagai pohon manfaat.

Lihat juga...