Proyeksi Pengembangan Sagu sebagai Komoditas Strategis Nasional Jalan di Tempat

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

“Karena semuanya bisa dimanfaatkan. Bisa menghasilkan produk organik, produk fungsional dan produk bebas gluten. Selain itu, pohon sagu punya kemampuan untuk melestarikan sumber daya air dan tanah serta mengurangi pemanasan global,” paparnya.

Karena itu pemanfaatan sagu bisa menjadi kebijakan yang pro rakyat, pembuka lapangan pekerjaan, pengembangan sumber daya manusia lokal dan pelestarian lingkungan.

“Tentunya jika semua pihak saling bersinergi. Hasil penelitian sagu bisa menjadi barang industri jika mendapatkan bantuan regulasi dan infrastruktur dari pemerintah,” tandasnya.

Karena permasalahan yang ada selama ini adalah areal sagu mayoritas berada dalam hutan, yang artinya membutuhkan pendanaan dan akses untuk proses pengolahannya.

“SDM yang mampu mengolah sagu juga masih terbatas, kelembagaan yang mewadahi produksi, pengolahan maupun pemasaran belum ada, investasi belum berkembang dan bioindustri berbasis sagu masih dalam masa pengembangan,” papar Otto.

Sehingga, jika ingin mengembangkan sebagai komoditas strategis nasional yang mampu menyamai beras, Otto menyebutkan harus dilakukan revitalisasi sagu.

“Caranya ya sinergitas program dan pendanaan dalam grand desain pengembangan sagu,” katanya tegas.

Yaitu dengan memperluas kerja sama antara lembaga riset, akademisi dan K/L, pengembangan regulasi dan kelembagaan serta mempersiapkan SDM baik di sektor petani dan industri.

“Sehingga bisa dikembangkan sagu kerakyatan, kawasan industri, pola kemitraan dengan investor dan pemantapan daya dukung pengembangan bio industri dalam menjadikannyasebagai bagian dari kedaulatan pangan Indonesia,” pungkasnya.

Lihat juga...