PSBB Transisi DKI Diperpanjang Hingga 6 Desember 2020

Pengendara motor melintas di depan mural tentang pandemi COVID-19 di Bukit Duri, Jakarta, Minggu (18/10/2020) – Foto Ant

JAKARTA – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali memperpanjang kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Masa Transisi menuju masyarakat sehat, aman dan produktif. Perpanjangan dilakukan selama 14 hari, terhitung mulai 23 November sampai 6 Desember 2020.

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menyebut, perpanjangan PSBB Transisi dilakukan berdasarkan Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No.1100/2020. Kebijakannya diambil, sebagai langkah antisipasi terhadap lonjakan kasus COVID-19.

“Pemprov DKI Jakarta dapat memperpanjang ataupun menerapkan kebijakan rem darurat atau emergency brake policy apabila terjadi kenaikan kasus secara signifikan, atau tingkat penularan yang mengkhawatirkan sehingga membahayakan pelayanan sistem kesehatan,” kata Anies Minggu (22/11/2020) malam.

Keputusan tersebut diambil, karena berdasarkan data-data epidemiologis selama penerapan PSBB Masa Transisi dua pekan terakhir, kondisi wabah COVID-19 DKI Jakarta masih terkendali. Dan diyakini bergerak menuju aman. Akan tetapi, semua pihak harus semakin waspada dan semakin disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan. Mengingat dalam laporan harian kasus positif di Jakarta, saat ini mencapai rekor baru, yaitu 1.579 kasus pada Sabtu (21/11/2020).

“Kondisi tersebut jangan sampai membuat kita semakin abai dan tidak disiplin. Ingat, masih terjadi penularan meskipun melambat. Ke depan, kami akan semakin memasifkan penegakan aturan atas protokol kesehatan dan kami berharap masyarakat proaktif bila mengetahui pelanggaran,” jelas Anies.

Masyarakat dimintanya juga tidak perlu terlalu khawatir. Dan harus segera melapor, bila merasa terpapar atau bergejala. “Ini adalah ikhtiar bersama. Kami tekankan kembali, tetap disiplin protokol kesehatan. COVID-19 masih ada,” tandas Anies.

Pemprov DKI mencatat, terdapat lonjakan kasus aktif sebesar 4.95 persen selama 14 hari terakhir. Yaitu 8.026 kasus pada 7 November menjadi 8.444 kasus pada 21 November. Adapun kasus aktif di Jakarta setiap dua pekan sebelumnya mengalami tren penurunan, yaitu 13.155 kasus (26/9), 13.253 kasus (10/10), 12.481 kasus (24/10) dan 8026 kasus (7/11).

Meskipun demikian, secara persentase, kasus aktif di Jakarta terus mengalami penurunan setiap dua pekan, yaitu 6,7 persen (21/11) dari sebelumnya 7,2 persen (7/11), kemudian 12,5 persen (24/10), 15,5 persen (10/10) dan 18,7 persen (26/9). Persentase kasus aktif ini merupakan perbandingan antara total kasus aktif dibandingkan dengan total akumulasi kasus terkonfirmasi positif.

Di sisi lain, tingkat kesembuhan juga semakin menunjukkan tren perbaikan dengan 91,3 persen pada 21 November 2020. Sedangkan pada setiap dua pekan sebelumnya berada di angka 78,9 persen (26/9), 82,3 persen (10/10), 85,4 persen (24/10) dan 90,7 persen (7/11). Selain itu, tingkat kematian juga menunjukkan penurunan sebesar 0,1 persen menjadi dua persen, dengan angka sebelumnya cenderung stabil di angka 2,1 persen pada 7 November dan 24 Oktober 2020. Angka tingkat kematian tersebut menunjukkan tren penurunan dibandingkan dua pekan sebelumnya, yaitu 2,4 persen (26/9) dan 2,2 persen (10/10).

Persentase total kasus terkonfirmasi positif menunjukkan sedikit kenaikan dalam dua pekan terakhir. Pada 21 November, kasus konfirmasi positif di Jakarta mencapai 125.822 atau meningkat 11.62 persen dibandingkan dua pekan sebelumnya dari 111.201 kasus (7/11).

Angka persentase pertambahan tersebut sedikit meningkat, bila melihat tren perubahan kasus yang sebelumnya menurun setiap dua pekannya. Artinya penularan kasus di Jakarta mulai sedikit meningkat dalam dua pekan terakhir setelah melambat di pekan-pekan sebelumnya. “Ini waktunya kita semakin waspada dan disiplin dengan protokol kesehatan. Artinya penularan masih terjadi dan kita harus semakin waspada,” tutur Anies. (Ant)

Lihat juga...